Penggalian Arkeologi dan Lukisan Rach

Kompas.com - 25/02/2012, 15:44 WIB
EditorPingkan

SEPERTI halnya Pulau Onrust, Pulau Cipir yang terletak tidak jauh dari Pulau Onrust, juga merupakan pulau bersejarah. Pada zaman Belanda, pulau ini dinamakan Kuifer. Bekas-bekas bangunan yang pernah berdiri di pulau ini, sampai sekarang masih terlihat di beberapa bagian pulau.

Diketahui pembangunan pertama di pulau ini dilakukan pada 1668 berupa sebuah dermaga. Pada 1675 dibangun satu kincir angin untuk penggergajian kayu. Selanjutnya untuk membantu peran Pulau Onrust, di Pulau Cipir dibangun gudang. Gudang-gudang ini berfungsi untuk menyimpan beras atau barang-barang lain yang akan dikirim ke Eropa.

Adanya dok-dok alam di Pulau Cipir, pernah dilukis oleh Johannes Rach. Diperkirakan terletak di sebelah selatan karena pantai-pantai lain di sekelilingnya dangkal. Dari lukisan Rach juga tergambar bahwa di Pulau Cipir pernah terdapat banyak budak yang melakukan pekerjaan pada masing-masing kapal dengan cara dirantai.

Sejarah Pulau Cipir hampir sama dengan pulau-pulau di sekitarnya, yakni Onrust, Sakit, dan Edam. Keempat pulau pernah tiga kali diserang tentara Inggris, yaitu pada tahun 1800, 1806, dan 1810. Sisa-sisa bangunan yang masih terdapat di Pulau Cipir diperkirakan dibangun setelah terjadinya serangan yang terakhir. Sisa-sisa bangunan sebelumnya masih terdapat dalam bentuk-bentuk fondasi di bawah tanah.

Pertama kali Pulau Cipir digali secara arkeologis pada 1979 oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Hasil ekskavasi berupa pecahan keramik, batu bata, fondasi bangunan, pipa cangklong, tulang hewan, logam, peluru, dan kaca (Laporan Penggalian Arkeologi Pulau Cipir, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, 1983). Meskipun tidak ada bagian yang utuh, namun sebagai data arkeologi, temuan-temuan demikian sudah banyak memberi informasi kesejarahan.

Boleh dibilang kondisi masa kini bangunan-bangunan tua peninggalan zaman Belanda sangat memprihatinkan. Di sisi pantai sebelah timur, keadaan bangunan sudah runtuh karena kikisan air laut masa musim angin timur. Sementara pada pantai sebelah barat, karena letak bangunan agak jauh, bangunannya tidak rusak. Bagian-bagian bangunan yang roboh ke laut terlihat sangat banyak. Karena itu perlu diselamatkan segera mungkin agar tidak semakin tergerus dengan sia-sia.

Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.