Dua Orangutan Selamat dari Maut - Kompas.com

Dua Orangutan Selamat dari Maut

Kompas.com - 02/02/2012, 20:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim rescue orangutan dari Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur berhasil menyelamatkan dua ekor orangutan dari maut.

Dua ekor orangutan tersebut adalah sepasang induk dan anak. Keduanya dijumpai di kawasan perkebunan sawit PT Bakacak Himba Bahari (BHB) pada tanggal 22 Januari 2012 saat tim melakukan program penyelamatan dan pelepasliaran.

"Saat ditemukan, kami melihat orangutan itu sedang memeluk anaknya. Lokasi penemuan ada di dekat persemaian perkebunan kelapa sawit," kata Dr Aldrianto Priadjati, Deputi Direktur RHOI dalam konferensi pers, Kamis (2/2/2012).

Aldrianto mengatakan, orangutan dan anaknya tampak mengenaskan. "Induk tampak kelelahan karena sudah dikejar-kejar semalaman orang yang bukan berasal dari wilayah setempat," tambah Aldrianto yang juga ketua tim penyelamatan dan pelepasliaran.

Keberhasilan penyelamatan adalah sebuah keberuntungan. Saat ditemukan, orangutan tengah dikepung manusia yang membawa tali dan parang. Jika tim penyelamat terlambat 10 menit saja, orangutan mungkin akan menjadi bangkai.

"Setelah menemukan, kami langsung membius induk. Kemudian kita bawa dan kita pasangi chip. Gunanya agar kita bisa melakukan pemantauan pada orangutan tersebut setelah dilepasliarkan," papar Aldrianto.

Orangutan yang berhasil diselamatkan kemudian dilepasliarkan ke hutan Kejeh Sewen yang menjadi lokasi pelepasliaran. Hutan ini berlokasi di Kalimantan Timur dan merupakan areal yang telah dipersiapakan untuk pelepasliaran orangutan.

Aldrianto menceritakan, butuh waktu 4 hari untuk melepasliarkan orangutan ini. Biaya yang diperlukan pun tak sedikit sebab tim harus menyewa mobil dan memenuhi kebutuhan lain agar bisa sampai ke lokasi pelepasliaran.

Pelepasliaran orangutan menyisakan momen mengharukan. "Begitu mencium bau hutan, orangutan yang kita bius lalu tersadar. Induk dan anaknya spontan langsung memajat pohon. Ini sangat mengharukan," tutur Aldrianto.

Aldrianto mengatakan, penyelamatan dan pelepasliaran ini hanya salah satu bagian dari upaya BODF dan RHOI. April mendatang, tim beranggotakan 6 orang akan kembali ke hutan untuk kembali melakukan program penyelamatan dan pelepasliaran.

Pelepasliaran bukannya tak menyisakan masalah. Belum ada jaminan pasti bahwa pelepasliaran akan membuat orangutan aman. Hutan terfragmentasi dan terus dieksploitasi. Orangutan bisa saja kelaparan atau dibunuh.

Butuh upaya serius untuk menjaga kelestarian orangutan. Bungaran Saragih dari BOSF mengusulkan adanya Corporate Biodiversity Responsibility sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan. Kewajiban ini harus terpisah dari Corporate Social Responsibility.

Orangutan yang dilepasliarkan diberi nama Suci (induk) dan Sri (anak), diambil dari nama pakar primata Indonesia Dr Sri Suci Utami. Induk orangutan berusia sekitar 25 tahun sementara anak berusia 6 tahun.


EditorTri Wahono
Close Ads X