Teguran Keras Pemanasan Global

Kompas.com - 19/12/2011, 02:26 WIB
Editor

Tahun ini alam memberikan peringatan yang sangat keras kepada dunia. Rentetan bencana dengan skala luar biasa terjadi di berbagai penjuru dunia hampir sepanjang tahun.

Tiga gempa besar mengguncang sejumlah negara tahun ini. Gempa berkekuatan 6,3 skala Richter mengusik ketenangan hidup di Christchurch, Selandia Baru, pada 22 Februari. Tak kurang dari 176 orang tewas dalam bencana tersebut.

Lalu, pada 11 Maret, gempa 9,0 skala Richter mengguncang pantai timur laut Jepang, menimbulkan tsunami raksasa yang memorakporandakan kota-kota di pesisir. Data terakhir hingga September 2011 menyebutkan, bencana itu menyebabkan 15.841 orang tewas, 5.890 orang terluka, dan 3.490 orang masih hilang.

Selain itu, gempa juga memicu bencana nuklir terburuk setelah Chernobyl setelah tiga dari enam reaktor nuklir di PLTN Fukushima Daiichi meleleh. Belum lagi dampak terhadap ekonomi setelah rantai produksi industri otomotif, elektronik, dan beberapa industri berat terputus.

Menjelang musim dingin di belahan bumi utara, gempa 7,1 skala Richter mengguncang Provinsi Van di Turki timur. Selain menewaskan 604 orang dan melukai 4.152 orang, gempa itu meluluhlantakkan tak kurang dari 6.000 bangunan, membuat sekitar 60.000 warga harus menghabiskan musim dingin tahun ini di tenda-tenda darurat.

Dampak bencana

Di luar bencana yang sifatnya tektonik dan vulkanik itu, tahun 2011 juga dipenuhi dengan bencana besar yang terkait dengan cuaca ekstrem. Dimulai dari banjir besar di Australia pada Januari, gelombang tornado di AS pada akhir April, kekeringan dan kelaparan di Afrika Timur pada Juli, taifun di Filipina pada awal Oktober, badai salju ”salah musim” di AS pada akhir Oktober, hingga banjir besar Thailand yang melanda sejak Juli hingga November.

Bencana-bencana ini menimbulkan korban dan kerugian yang tak sedikit dan mencatat sejumlah ”rekor” baru. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Rio de Janeiro, Brasil, pertengahan Januari lalu, merenggut nyawa sedikitnya 903 orang. Bencana ini disebut-sebut sebagai bencana cuaca terburuk dalam sejarah Brasil.

Banjir di Queensland, Australia, yang menewaskan 35 orang dan menimbulkan kerugian hingga 1 miliar dollar Australia (Rp 8,9 triliun), dinyatakan sebagai banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir. Demikian juga banjir di Thailand, yang menghilangkan nyawa lebih dari 600 orang dan menelan kerugian sekitar 45 miliar dollar AS.

Dampak bencana pun tak berhenti sampai saat air sudah surut atau gempa susulan sudah berlalu. Di dunia yang telah menyatu saat ini, satu kejadian di negara tertentu bisa seketika berpengaruh terhadap negara yang jauh dari pusat bencana.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X