Krakatau dalam Kitab Raja Purwa

Kompas.com - 02/12/2011, 16:48 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com - "Seluruh dunia terguncang hebat, dan guntur menggelegar, diikuti hujan lebat dan badai, tetapi air hujan itu bukannya mematikan ledakan api Gunung Kapi, melainkan semakin mengobarkannya; suaranya mengerikan; akhirnya Gunung Kapi dengan suara dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke bagian terdalam dari bumi," demikian sepenggal isi Kitab Raja Purwa yang dibuat pujangga Jawa dari Kesultanan Surakarta, Ronggowarsito. Salinan kitab itu masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Kitab itu diterbitkan tahun 1869 atau 14 tahun sebelum letusan Krakatau. Penyebutan Gunung Kapi tak banyak dikenal pada periode itu sehingga tulisan Ronggowarsito membingungkan banyak kalangan. Namun, deskripsi berikutnya dalam buku itu semakin mirip dengan peristiwa tsunami saat Krakatau meletus pada 1883, "Air laut naik dan membanjiri daratan, negeri di timur Gunung Batuwara sampai Gunung Raja Basa dibanjiri oleh air laut; penduduk bagian utara negeri Sunda sampai Gunung Raja Basa tenggelam dan hanyut beserta semua harta milik mereka."

Penggambaran Ronggowarsito ini mengusik kesadaran Gegar Prasetya, ahli tsunami dan kelautan. "Apakah tulisan Ronggowarsito ini semacam ramalan atas peristiwa akan datang (letusan Krakatau 1883) atau dia menggambarkan peristiwa letusan Krakatau di masa silam?" kata Gegar.

Mantan peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini menemukan naskah Ronggowarsito saat melakukan penelitian di perpustakaan Universitas Leiden (Belanda) untuk menyelesaikan program doktoral. "Saya membaca buku Ronggowarsito yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Padahal, aslinya beraksara dan berbahasa Jawa. Sebagai keturunan Jawa, hal ini sebenarnya memalukan," kata dia.

Dari catatan Ronggowarsito yang penuh misteri ini, akhirnya Gegar berkeyakinan bahwa Krakatau pernah meletus sebelum tahun 1883. Apalagi di buku edisi kedua yang diterbitkan pada 1885 atau dua tahun setelah letusan Krakatau, Ronggowarsito menulis penanda tahun dan deskripsi lokasi Gunung Kapi yang bisa dipastikan adalah Krakatau, " ...di tahun Saka 338 (416 Masehi) sebuah bunyi menggelegar terdengar dari Gunung Batuwara yang dijawab dengan suara serupa yang datang dari Gunung Kapi yang terletak di sebelah barat Banten modern."(Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono)

Ikuti perkembangan Ekspedisi Cincin Api di: www.cincinapi.com atau melalui Facebook: ekspedisikompas atau Twitter @ekspedisikompas

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

    Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

    Fenomena
    Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

    Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

    Kita
    Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

    Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

    Oh Begitu
    Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

    Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

    Fenomena
    BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

    BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

    Fenomena
    Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

    Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

    Fenomena
    Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

    Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

    Oh Begitu
    [POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

    [POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

    Oh Begitu
    Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

    Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

    Kita
    Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

    Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

    Oh Begitu
    Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

    Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

    Kita
    Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

    Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

    Kita
    Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

    Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

    Oh Begitu
    Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

    Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

    Oh Begitu
    Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

    Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

    Fenomena
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.