Uni Eropa Kekurangan Kapal Perang untuk Perangi Perompak - Kompas.com

Uni Eropa Kekurangan Kapal Perang untuk Perangi Perompak

Kompas.com - 23/11/2011, 13:10 WIB

BRUSSELS, KOMPAS.com - Uni Eropa dilaporkan kekurangan kapal perang yang siap berpatroli di perairan sekitar Somalia dan Teluk Aden untuk memerangi perompak hingga bulan Maret 2012. Hal itu disebabkan krisis ekonomi di Eropa dan operasi militer di Libya.

Demikian diungkapkan Jenderal Hakan Syren dari Swedia, yang mengetuai Komite Militer Uni Eropa (UE), setelah pertemuan para menteri pertahanan 27 negara anggota UE di Brussels, Belgia, Selasa (22/11/2011) malam atau Rabu (23/11/2011) WIB.

UE menggelar operasi anti bajak laut di sekitar perairan Somalia dengan nama sandi Operasi Atalanta. Biasanya dibutuhkan empat sampai enam kapal perang untuk menjalankan operasi ini, tetapi jumlah tersebut tak bisa dipenuhi paling tidak sampai Maret tahun depan.

"Komandan operasi saat ini memiliki jumlah kapal dan pesawat patroli maritim dalam jumlah minimum, dan dalam waktu yang terbatas ini, jumlah kapal (yang bisa berpatroli) berada di bawah garis minimum. Ini jadi masalah," tutur Syren.

Para perompak yang bermarkas di kawasan pesisir Somalia telah meraup uang jutaan dollar AS dari uang tebusan yang dibayarkan para pemilik kapal. Modus operasi mereka adalah dengan membajak kapal barang, kemudian menyanderanya bersama muatan dan seluruh awak kapal dan meminta uang tebusan ke pemilik kapal.

Menurut gugus tugas anti bajak laut UE, EU Navfor, saat ini tak kurang dari 10 kapal dan 243 orang awak kapal masih disandera oleh kelompok-kelompok bajak laut ini. Maraknya perompakan ini diperkirakan telah menambah beban ekonomi global sebesar 7-12 miliar dollar AS per tahun akibat makin tingginya biaya pelayaran dan pembayaran uang tebusan.

Menurut Syren, kekurangan kapal perang yang bisa dikerahkan dalam Operasi Atalanta disebabkan oleh krisis keuangan berkepanjangan yang melanda Eropa dan kelelahan yang dialami angkatan laut negara-negara Eropa setelah melangsungkan operasi tempur selama tujuh bulan berturut-turut di Libya.  


EditorRobert Adhi Ksp

Close Ads X