Lapisan Ozon Menipis, Kasus Kebutaan Tinggi

Kompas.com - 17/11/2011, 16:27 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Nila Moeloek mengatakan, jumlah kasus kebutaan akibat katarak di Indonesia masih tinggi dengan prevalensi 52 persen. Salah satu faktor penyebabnya adalah sinar ultraviolet yang timbul akibat dampak penipisan lapisan ozon.       Dalam talkshow bertema "Dampak Penipisan Lapisan Ozon terhadap Kesehatan" di Jakarta, Kamis (17/11/2011), Nila menjelaskan, kerusakan lapisan ozon stratosfer disebabkan oleh berbagai gas yang mengandung klorin dan atau bromin serta mampu naik hingga lapisan stratosfer. 

Bahan Perusak Ozon (BPO) pada umumnya digunakan sebagai bahan pendingin, bahan pembuatan busa dan sebagainya.  BPO yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari seperti CFC, Hydro chloroflourocarbon (HCFC), metil bromida, aerosol bisa ditemui di mesin cuci, AC, hairspray, busa kursi, pabrik, tembakau, AC mobil, bahan pembersih dan sebagainya.      Berbagai BPO itu akan menyebabkan menipisnya lapisan ozon sehingga berdampak pada kesehatan dan menurunkan kekebalan tubuh, menghambat pertumbuhan tanaman dan membunuh beberapa jenis plankton.

Ia menambahkan, pemerintah sejauh ini juga belum memprioritaskan dan memberi perhatian kepada masalah mata sehingga jumlah penderita kebutaan masih tinggi.

"Pemerintah masih fokus pada penyakit seperti AIDS dan mengabaikan mata, padahal mata berperan penting karena juga dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi," kata Nila      Kebutaan akibat katarak mencapai 200 ribu kasus setiap tahun, tidak seimbang dengan jumlah dokter mata sebanyak 1.600 orang. Sementara kanker yang paling banyak akibat sinar matahari adalah tumor mata.      "Dampak penipisan lapisan ozon salah satunya penderita kanker meningkat  di Indonesia yaitu 11 juta kasus baru dengan tujuh juta pasien meninggal dan total 25 juta penderita kanker," ujar Nila Moeloek.      Nila mengatakan, operasi katarak membutuhkan biaya yang besar tapi setelah dioperasi akan memberi dampak yang positif bagi orang penderita katarak karena bisa melihat kembali dan mejadi produktif.      "Bayangkan saja jika satu orang buta tidak bisa bekerja akan bergantung kepada orang lain, jika dioperasi bisa melihat kembali maka ia akan bekerja dan menjadi produktif, pertumbuhan ekonomi akan berjalan," tambahnya.      Karena itu, Indonesia memiliki Visi 2020 dengan misi semua punya hak untuk melihat bertujuan untuk menurunkan jumlah kebutaan yang dapat dicegah menjadi 0,5 persen pada 2020. Hal ini diyakini bisa meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas setiap individu.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X