Empat Rekomendasi Atasi Masalah Air Tanah Jakarta

Kompas.com - 11/11/2011, 21:51 WIB
|
EditorTri Wahono

KOMPAS.com - Robert M Delinom dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar riset, Jumat (11/10/2011), di Jakarta mengatakan bahwa Jakarta dihantui ancaman bencana air tanah akibat pencemaran dan eksplotasi air yang berlebihan.

Beberapa masalah yang mengancam antara lain disebabkan ketergantungan industri pada air tanah yang sangat besar. Hal tersebut disebabkan karena pemerintah belum menyediakan infrastruktur yang mendukung penyediaan air bagi sektor industri.

Menurut data terakhir, jumlah air permukaan bersih yang disuplai untuk sektor industri hanya sekitar 3,5 meter kubik di tahun 2003, yakni hanya 1 persen dari volume yang dibutuhkan untuk kegiatan industri. Ini berarti bahwa semua air yang dibutuhkan disuplai dari air tanah.

Ketergantungan air tanah juga terjadi di masyarakat. Diketahui bahwa 41 persen warga Jakarta masih tergantung pada air tanah. Di saat jumlah penduduk Jakarta terus meningkat, jumlah eksploitasi air tanah juga makin tinggi sehingga menmgganggu keseimbangan air tanah.

Di sisi lain, Delinom mengatakan, "Dari hasil penelitian kami pada air tanah dangkal, telah terdeteksi kandungan nitrat yang sangat tinggi di beberapa tempat. Kegiatan manusia sehari-hari telah memengaruhi kualitas air tanah di daerah ini."

Masalah lain, berdasarkan analisa karbon, umur air tanah lebih muda dari tahun 1985. Adanya chloro fluroro carbon (CFC) dan sulfur hydro fluoride di air tanah menandakan adanya rembesan air tanah dangkal, amblesan tanah yang makin intensif, dan intrusi air laut pada air tanah dangkal.

Delinom mengungkapkan, untuk mengatasi permasalahan air tanah, perlu analisis lengkap tentang mengapa masalah air tanah terjadi. Perlu dilihat faktor penyebab (soal populasi dan pendapatan masyarakat), tekanan (jumlah konsumsi air tanah), fakta masalah, dan responnya.

Ia menyusun empat rekomendasi untuk mengatasi masalah air tanah di Jakarta. Pertama adalah keseriusan upaya mengelola air tanah secara berkelanjutan dan upaya konservasinya serta mengubah pandangan bahwa air tanah adalah sumber daya yang tidak bisa di[perbarui.

"Pengelolaan air tanah di DKI jakarta harus lebih memerhatikan pada masalah yang terjadi di daerah imbuhan (resapan). Daerah imbuhan yang tidak luas tersebut harus dijaga agar tidak rusak karena tingkah laku manusia yang tidak ramah lingkungan," tambah Delinom.

Menurut Delinom, secara kualitatif, masalah air tanah di Jakarta sudah terganggu sejak air tanah diresapkan di daerah imbuhan. Dengan demikian, kondisi lingkungan daerah imbuhan juga harus dikelola sehingga lebih baik.

Hal lain adalah perlunya mengelola daerah luapan, zona di mana air dikeluarkan atau dipakai. Berdasarkan analisis pada krisis air di daerah luapan, penurunan kualitas air diakibatkan karena polusi limbah domestik dan kegiatan industri.

"Pengelolaan air tanah harus meliputi dua aspek penting, yakni aspek fisik dan teknik dan aspek sosial dan nonteknis," imbuh Delinom. Aspek fisik misalnya pengelolaan tutupan lahan dan konservasi mata air, sementara aspek sosial adalah kesadaran pengelolaan air.

Delinom mengatakan, Jakarta harus mampu mengurangi ketergantungannya pada air tanah dan mencari alternatif pengelolaan air. Salah satunya dengan memanfaatkan air sungai yang dikelola kembali, dan dengan demikin menuntut manajemen lingkungan mata air dan aliran sungai.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X