Ditemukan, 2 Spesies Katak Pemakan Semut

Kompas.com - 09/10/2011, 12:18 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com — Dr Conrad Hoskin dari Australia National University (ANU) dan Kieran Aland dari Queensland Museum berhasil menemukan 2 spesies katak batuan. Dua spesies katak tersebut diberi nama Katak Batuan Katini (Cophixalus kulakula) dan Katak Batuan Bertudung Emas (Cophixalus pakayakulangun).

Nama dua spesies tersebut, menurut Hoskin, berasal dari bahasa Kuuku Ya'u, bahasa lokal masyarakat tempat katak itu ditemukan. Hoskin juga mengatakan bahwa dua spesies katak tersebut telah beradaptasi dengan lingkungan batuan di hutan hujan tropis.

"Katak itu memiliki lengan yang panjang, jari yang ramping serta bantalan jari berbentuk segitiga dan berukuran cukup besar. Sifat tersebut membuat katak ini mampu memanjat di antara labirin batuan," ungkap Hoskin seperti dikutip Physorg, Jumatb (7/10/2011).

"Mereka hanya terdapat di batuan dan tak pernah dijumpai di lingkungan sekitarnya. Meski mereka sangat terlokalisasi, mereka terdapat dalam jumlah melimpah ketika ditemui. Anda bisa duduk saat mulai gelap dan melihat katak-katak menakjubkan ini muncul dari batuan," tambah Hoskin.

Kedua spesies katak ini ditemukan di dua wilayah berbveda Cape York Peninsula. Menurut Hoskin, tak banyak spesies yang bisa ditemukan di tumpukan batuan. Selain katak batuan, hanya ada beberapa spesies kadal, serangga dan laba-laba yang bisa ditemukan.

"Dua spesies ini umumnya memakan semut. Mereka meletakkan telur di darat dan tahap berudunya berlangsung di dalam telur. Katak kecil kemudian menetas sebelum akhirnya pergi ke wilayah hutan atau batuan," jelas Hoskin.

Dibanding katak yang sekerabat, dua spesies ini tergolong unik karena ukurannya yang cukup besar. Katak batuan sekerabat lainnya hanya punya ukuran panjang 2 cm. Dua jenis katak ini juga hanya keluar ke permukaan batuan ketika ada hujan di musim panas yang basah.

Untuk menemukan dua jenis katak ini, ilmuwan harus menjelajah di musim panas yang basah dan menelisik tiap batuan. Menurut Hoskin, yang paling membanggakan dari penemuan ini adalah masih adanya spesies baru dalam sains yang bisa ditemukan di negara maju seperti Australia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.