China Sukses Luncurkan Istana Surgawi

Kompas.com - 29/09/2011, 22:33 WIB
EditorNasru Alam Aziz

BEIJING, KOMPAS.com — China kembali menunjukkan keunggulan dalam bidang teknologi setelah sukses meluncurkan modul eksperimen laboratorium luar angkasa Tiangong-1 (Istana Surgawi-1), Kamis (29/9/2011) malam. Roket Long March 2FT1, yang membawa modul tersebut, meluncur dengan mulus dari pusat peluncuran Jiuquan di kawasan Gurun Gobi, Provinsi Gansu, China barat laut, tepat pukul 21.16 waktu setempat atau 20.16 WIB.

Perdana Menteri China Wen Jiabao menyaksikan langsung proses peluncuran itu, saat roket dan muatannya melesat ke luar angkasa menembus langit malam yang cerah. Modul seberat 8,5 ton itu akan ditempatkan di orbit setinggi 350 kilometer di atas permukaan Bumi.

Setelah Tiangong-1 berada di orbitnya, China akan meluncurkan pesawat luar angkasa Shenzhou 8 dalam beberapa pekan mendatang. Shenzhou kemudian akan digunakan untuk latihan melakukan proses bergandeng (docking) dengan Tiangong melalui proses yang dikendalikan secara jarak jauh dari stasiun pengendali di Bumi.

"Ini adalah uji coba yang signifikan. Kami belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya," tutur Lu Jinrong, teknisi kepala di pusat peluncuran Jiuquan, seperti dikutip kantor berita Xinhua.

Kantor berita Associated Press menyebutkan, prosedur docking yang dikendalikan secara jarak jauh ini bahkan belum pernah dicoba oleh para astronot AS. Selama ini, para astronot NASA selalu melakukan proses docking dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) secara langsung dengan pengendalian dari pesawat luar angkasa mereka.

Dua misi lagi direncanakan tahun depan, salah satunya dengan melibatkan astronot, yang kemudian akan mencoba tinggal di Tiangong-1 selama satu bulan. Semua misi luar angkasa ini adalah bagian dari ambisi China untuk mengorbitkan dan mengoperasikan stasiun luar angkasa buatan sendiri mulai tahun 2020.

China sudah berulang kali menyatakan minat untuk bergabung dengan 16 negara yang berkolaborasi mengoperasikan ISS. Namun, keinginan China itu selalu ditolak oleh AS, dengan alasan kedekatan program luar angkasa China dengan pengembangan militer China yang tertutup.

Akhirnya, China memutuskan mengembangkan teknologinya sendiri untuk membuat stasiun luar angkasa. China pertama kali menerbangkan astronot ke orbit pada 2003, dan menjadi negara ketiga di dunia setelah Rusia dan AS yang mampu melakukan hal itu. Tahun lalu negara itu meluncurkan wahana pengorbit Bulan pertama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun, Berapa Dosisnya?

Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun, Berapa Dosisnya?

Oh Begitu
Kasus Positif Covid-19 pada Anak Meningkat, Kemenkes: Sekolah Harus Perhatikan Prokes

Kasus Positif Covid-19 pada Anak Meningkat, Kemenkes: Sekolah Harus Perhatikan Prokes

Oh Begitu
Bumi Berputar Lebih Cepat atau Lebih Lambat? Ini Kata Ahli

Bumi Berputar Lebih Cepat atau Lebih Lambat? Ini Kata Ahli

Oh Begitu
Presiden Jokowi: Perubahan Iklim Semakin Kritis dan Penting Diatasi Segera

Presiden Jokowi: Perubahan Iklim Semakin Kritis dan Penting Diatasi Segera

Oh Begitu
Menkes Budi: YouTube Periksa Bantu Tingkatkan Sumber Informasi Kesehatan yang Kredibel

Menkes Budi: YouTube Periksa Bantu Tingkatkan Sumber Informasi Kesehatan yang Kredibel

Oh Begitu
Dianggap Tularkan Virus Cacar Monyet, Monyet di Brasil Diracuni

Dianggap Tularkan Virus Cacar Monyet, Monyet di Brasil Diracuni

Fenomena
4 Gangguan Menstruasi dan Penyebabnya

4 Gangguan Menstruasi dan Penyebabnya

Oh Begitu
Jangan Lewatkan Sturgeon Moon Hari Ini, Fenomena Supermoon Terakhir di 2022

Jangan Lewatkan Sturgeon Moon Hari Ini, Fenomena Supermoon Terakhir di 2022

Oh Begitu
Apa Itu Eksositosis?

Apa Itu Eksositosis?

Oh Begitu
Pembuatan Perunggu 2.300 Tahun Lalu di China Terungkap dalam Catatan Kuno

Pembuatan Perunggu 2.300 Tahun Lalu di China Terungkap dalam Catatan Kuno

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.