Pergulatan Batin Sang Penyelam

Kompas.com - 11/05/2011, 05:32 WIB
Editor

Oleh Timbuktu Harthana dan A Ponco Anggoro

Pasang surut di perairan Kaimana tak memengaruhi semangat para sukarelawan untuk menelisik dasar laut Tanjung Simora, Kaimana, Papua Barat. Merekalah tumpuan harapan bagi keluarga korban jatuhnya pesawat Merpati M-60. 

Cuaca cerah, Selasa (10/5) siang, memacu adrenalin para penyelam menggeledah dasar laut. Target mereka adalah cockpit (ruang kemudi) pesawat buatan China yang keberadaannya masih misterius setelah jatuh di dekat Bandara Utarom, Kaimana, Sabtu lalu.

”Saya lihat cockpit-nya. Posisinya terbalik, rodanya menghadap ke atas. Tetapi entah, ada orang di dalamnya atau tidak,” ujar Devy Pada (28), yang menyembul dari dalam laut di Tanjung Simora.

Bergegas, penyelam lainnya, Jerry, yang membawa kamera bawah air, menceburkan diri ke dalam laut. Tak sampai 15 menit, Jerry muncul dengan membawa hasil jepretan foto-foto moncong pesawat yang terbenam di kedalaman hampir 20 meter. Meski hasil sedikit buram karena dasar laut dipenuhi lumpur halus, foto-foto itu menguak titik terang. Setidaknya menjadi bukti kuat bahwa bagian kepala pesawat terbang yang dicari-cari selama dua hari terakhir bisa ditemukan.

Selanjutnya, untuk memastikan apakah jenazah pilot Purwadi Wahyu dan kopilot Paul Nap benar-benar ada di ruang kemudi, beberapa penyelam terjun kembali ke dasar laut. Mereka melihat dan meraba benda-benda yang ditemukan itu. Dipastikan, kedua jenazah masih tersangkut di ruang kemudi.

Upaya mengeluarkan kedua jenazah dari ruang kemudi bukanlah perkara mudah. Patahan kerangka pesawat menutup akses masuk ke ruang cockpit. Selain itu, robekan dinding pesawat yang membentuk ujung- ujung runcing turut membahayakan penyelam. Celah-celah yang terbuka pun terlalu sempit untuk diterobos penyelam yang membawa tabung oksigen.

”Kami mencoba menarik jenazah pilot dan kopilot yang terjepit di bagian pinggang ke atas, tetapi sulit sekali,” ujar Ipda Hemry, Kepala Polisi Subsektor Koordinator Pengawasan dan Pengamanan Pelabuhan Kaimana, yang ikut menyelam.

Karena hari kian gelap dan cuaca mendung, pencarian dan evakuasi yang berjalan sekitar 4,5 jam kemarin diakhiri sekitar pukul 17.30 petang. Akhirnya, 21 penyelam tim gabungan dari Polisi Air, Basarnas, PMI, TNI, dan Conservation International Indonesia naik ke perahunya masing-masing.

Pemandangan jenazah yang terapung dan terpuruk di dasar laut adalah panorama yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini dinikmati oleh Devy dan Yaser Fauzan (28). Penyelam dari Conservation International Indonesia tersebut sudah terbiasa dengan keindahan alam bawah laut, terumbu karang, dan aneka satwa laut.

Sejak Sabtu sore pekan lalu, untuk sementara mereka melupakan dulu keindahan bawah laut. Kali ini, mereka harus mencari 25 penumpang dan awak dalam pesawat Merpati yang jatuh beberapa menit sebelum mendarat dalam rute Sorong-Kaimana.

Halaman:


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X