Gemuruh di Perut Gunung "Mati" Wilis

Kompas.com - 22/02/2011, 03:51 WIB
Editor

MADIUN, KOMPAS - Suara gemuruh terdengar dari bawah bumi pada sejumlah daerah di lereng Gunung Wilis (2.552 meter dari permukaan laut), Jawa Timur, sejak dua pekan lalu. Warga Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, terakhir kali mendengar suara itu pada Senin (21/2) pukul 03.00.

Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) Kecamatan Kare, Pemerintah Kabupaten Madiun, Muhamad Nuh mengungkapkan, ada warga yang mengaku mendengar gemuruh itu sejak sebulan terakhir. Ada yang mengaku selama dua minggu terakhir. ”Sebenarnya juga terdengar pada siang hari, tetapi mungkin karena pagi hari buta masih sangat sepi sehingga lebih terasakan,” katanya.

Marjoko, pegawai Kecamatan Kare, menjelaskan, suara gemuruh berlangsung hanya beberapa detik. Sehari bisa berlangsung beberapa kali, tetapi kadang tidak ada sama sekali. ”Menurut warga, makin dekat dengan puncak Gunung Wilis, suara (gemuruh) makin terasa kuat,” ujar Marjoko.

Gemuruh itu terdengar sampai di lereng Gunung Wilis di Kabupaten Nganjuk, Ponorogo, dan Trenggalek. Menurut Marjoko, ia pernah naik ke puncak Gunung Wilis, dan menegaskan tak ada lubang kawah di sana. ”Saya hanya mencapai puncak pertama, yang disebut Watu Garudo, empat jam jalan kaki menembus hutan rimba punggung Wilis, tetapi di atasnya masih ada puncak gunung lagi,” katanya.

Tak ada aktivitas uap belerang, air panas, atau tanda-tanda kegiatan vulkanik di Gunung Wilis. Jalur pendakian juga sepi dari kunjungan kegiatan pendaki.

Menurut Nuh, pihaknya sudah melaporkan peristiwa gemuruh yang meresahkan warga ini kepada Pemkab Madiun. Warga mengaitkan dan mencemaskan gejala ini dengan fenomena lumpur Lapindo dan gempa di Yogyakarta, serta aktivitas Gunung Bromo dan Gunung Kelud. Apalagi di Gunung Kelud mengalami kelahiran anak gunung baru.

Gerakan tanah

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi menegaskan, suara gemuruh itu disebabkan kejadian gerakan tanah. Kejadian ini tak terkait aktivitas tektonik dan vulkanik Gunung Wilis.

”Kejadian yang sama pernah terjadi di Samosir tahun 2005, Lampung (2006), dan Sumedang (2010). Itu adalah gerakan tanah biasa dan berhenti saat masuk musim kemarau,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono di Bandung.

Surono mengatakan, penyebab utama kejadian ini karena tanah di sekitar lereng Wilis sangat lapuk yang merupakan sisa endapan vulkanik. Daerah itu juga tergolong labil karena banyak terdapat patahan. ”Tetapi, saya tegaskan, kejadian ini bukan gempa bumi atau pengaruh kegiatan vulkanik Gunung Wilis,” katanya.

Kepala Bidang Pengamatan Gerakan Tanah PVMBG Badan Geologi I Gede Suantika mengatakan telah mengirimkan tim guna mengamati kejadian ini di Trenggalek dan Ponorogo. Selanjutnya, ia akan menerjunkan tim dengan alat pengamat getaran tanah di sekitar Ngawi. (ODY/CHE)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X