Perdagangan Satwa Liar di Internet Terungkap

Kompas.com - 11/02/2011, 04:38 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Kementerian Kehutanan dan Bareskrim Polri menangkap pemilik galeri di Jakarta yang memperdagangkan satwa liar dan dilindungi melalui internet. Pelaku diduga pemain besar dalam bisnis ilegal ini dan mempunyai jaringan pembeli ke banyak negara. Penangkapan ini diduga fenomena puncak gunung es dan jauh lebih banyak kasus sejenis yang tak terungkap.

”Operasi penyidik pegawai negeri sipil kehutanan dan Polri pada 9 Februari 2011 menangkap AKM, pemilik galeri di sebuah hotel Jalan Toko Tiga, Jakarta Barat. Pelaku ditahan di Badan Reserse dan Kriminal Polri,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Darori di Jakarta, Kamis (10/2).

Penangkapan itu menyita lebih dari 150 organ satwa dilindungi dan sebagian satwa nyaris punah. Barang bukti antara lain tengkorak, gigi dan kuku beruang, lembaran kulit kaki, kumis dan tengkorak harimau, taring macan, tanduk kijang/rusa, empedu ular sanca, gading, cangkang kima kepala kambing, penyu, dan lembaran kulit kucing hutan. Nilai jual di pasar gelap ditaksir di atas Rp 100 juta.

”Barang-barang ini diperdagangkan melalui internet,” kata Darori. Negara tujuan utama adalah China. Tempat transit di Malaysia.

Gunung es

Ketua Lembaga Advokasi Satwa Irma Hermawati mengatakan, AKM diduga salah seorang bandar besar perdagangan satwa liar di Indonesia. ”Banyak pelaku sebelumnya yang ditangkap menyebut keterlibatan dia,” kata Irma, yang lembaganya membantu operasi ini.

Menurut Irma, penangkapan AKM merupakan modus perdagangan satwa menggunakan internet yang pertama kali dibongkar. ”Perdagangan satwa liar menggunakan internet menjadi modus baru. Pelaku mencari pembeli dengan mengiklankan di internet lalu mengirimkannya ke pembeli melalui jasa pengiriman komersial,” tuturnya.

Pengungkapan kasus AKM, lanjut Irma, fenomena gunung es. Perdagangan satwa liar marak, namun jarang terungkap. ”Di setiap daerah ada jaringan dan pelakunya,” katanya.

Menurut data Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan, Januari 2011 disita 737 kura-kura moncong babi di Papua. Desember 2010 disita 467 kura-kura moncong babi di Merauke dan Mimika. (ICH/AIK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.