Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lokalisasi Eceng Gondok Mendesak

Kompas.com - 23/12/2010, 05:02 WIB

Semarang, Kompas - Lokalisasi eceng gondok dalam satu lokasi tertentu dengan jumlah terbatas di waduk alami Rawa Pening, mendesak untuk dilakukan. Selain bertujuan mengendalikan populasi, lokalisasi itu juga penting untuk mencegah kerugian di bidang pertanian akibat hama tikus.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Semarang Fadjar Eko di Ungaran, Rabu (22/12). Menurut dia, eceng gondok menjadi sarang tikus karena menyediakan makanan cadangan sekaligus aman dari manusia.

”Begitu eceng gondok terbawa arus menepi ke lahan pertanian di sekitar Rawa Pening, mereka langsung memakan tanaman padi. Selama tahun 2010, sekitar 100 hektar tanaman padi di sekitar Rawa Pening, terserang tikus, meski tidak semuanya puso,” ujarnya.

Selain itu, eceng gondok juga menyebabkan puluhan hektar lahan pertanian padi di Rowoboni, Tegaron, Banyubiru, Kebumen, Kebondowo, dan Ngapah di Kecamatan Banyubiru, sempat tidak bisa ditanami. Pasalnya, eceng gondok yang terbawa arus, mengendap di sawah saat genangan air menyurut.

”Dari sisi estetika juga akan lebih baik jika eceng gondok itu dikumpulkan di satu sisi Rawa Pening. Hanya saja, lokasinya harus dikaji terlebih dahulu, di mana paling tepat,” ujarnya.

Eceng gondok di Rawa Pening mencapai luasan 30 persen dari luas Rawa Pening, lebih kurang 2.000 hektar, melebihi batas aman 5 persen dari luas genangan. Eceng gondok berkembang pesat akibat kondisi air yang tercemar, sedangkan eceng gondok yang mati menurunkan kualitas air, sekaligus menjadi sedimentasi.

Kendati demikian, eceng gondok itu juga memberi penghidupan kepada ratusan perajin eceng gondok. Mutiah (54), pengepul eceng gondok di Desa Kebondowo, Banyubiru, berharap eceng gondok tidak sepenuhnya dimusnahkan dari Rawa Pening. ”Kalau dimusnahkan semuanya sama saja mematikan pencaharian perajin di sini. Kalau hanya dikurangi tidak apa-apa,” ujar Mutiah.

Mutiah mengaku menampung sekitar 100 perajin yang menyetorkan eceng gondok dalam kondisi basah, sudah kering, atau yang sudah dijalin menjadi tali. Setiap hari, dia bisa mengirimkan 150-200 kilogram eceng gondok kering ke Solo dengan harga Rp 5.200-Rp 5.500 per kilogram.

(GAL)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Mengapa Ayam Berkokok Saat Setelah Bertelur?

Mengapa Ayam Berkokok Saat Setelah Bertelur?

Oh Begitu
Apa yang Terjadi Saat Otak Mati?

Apa yang Terjadi Saat Otak Mati?

Oh Begitu
Apakah Ada Cara Memperlambat Proses Penuaan?

Apakah Ada Cara Memperlambat Proses Penuaan?

Oh Begitu
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2023 Berakhir pada Akhir Oktober

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2023 Berakhir pada Akhir Oktober

Fenomena
Kloroplas Tanaman Berpotensi Jadi Obat untuk Penyakit Huntington

Kloroplas Tanaman Berpotensi Jadi Obat untuk Penyakit Huntington

Oh Begitu
Jangan Asal Buang, Sampah Rumah Tangga Ini Juga Limbah Berbahaya

Jangan Asal Buang, Sampah Rumah Tangga Ini Juga Limbah Berbahaya

Kita
Apakah Ada Makanan yang Membuat Kentut Berbau?

Apakah Ada Makanan yang Membuat Kentut Berbau?

Oh Begitu
Fakta-fakta Menarik Bayi Gajah, Tak Hanya Suka Mengisap Belalai

Fakta-fakta Menarik Bayi Gajah, Tak Hanya Suka Mengisap Belalai

Oh Begitu
Apakah Gajah Afrika Bisa Kawin dengan Gajah Asia?

Apakah Gajah Afrika Bisa Kawin dengan Gajah Asia?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Bahan Bakar 'Aman Api'

Ilmuwan Temukan Bahan Bakar 'Aman Api'

Fenomena
Apakah Ikan Juga Minum Saat Merasa Haus?

Apakah Ikan Juga Minum Saat Merasa Haus?

Oh Begitu
Bagaimana Cincin Saturnus Terbentuk?

Bagaimana Cincin Saturnus Terbentuk?

Fenomena
Mengatasi Polusi Udara dengan Teknologi Plasma

Mengatasi Polusi Udara dengan Teknologi Plasma

Fenomena
Bagaimana Seharusnya Sampah Dipilah?

Bagaimana Seharusnya Sampah Dipilah?

Kita
Bagaimana Terumbu Karang Terbentuk?

Bagaimana Terumbu Karang Terbentuk?

Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com