Kulit Paus Juga Bisa Terbakar Matahari

Kompas.com - 10/11/2010, 19:19 WIB

KOMPAS.com Bukan kulit manusia saja yang bisa terbakar sinar matahari. Kulit paus juga bisa mengalaminya. 

Ilmuwan dari Zoological Society of London baru-baru ini menemukan fakta tersebut setelah melakukan penelitian pada beberapa jenis paus yang terdapat di Gulf of California. Mereka mengambil sampel, mengumpulkan foto beresolusi tinggi, dan menelaah struktur mikroskopik dari paus sperma, paus sirip abu-abu, dan paus biru.

Hasil penelitian menunjukkan, hampir setiap sampel kulit paus memiliki sel-sel kulit yang terbakar sinar matahari, bahkan pada lapisan kulit yang terdalam. Hal itu menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi cukup parah. Para peneliti menduga, luka bakar pada paus itu berkaitan dengan kerusakan lapisan ozon yang terjadi.

Karina Acevedo-Whitehouse, ahli epidemologi molekuler dari Zoological Society of London yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, kerusakan tersebut bisa mudah terjadi karena paus tidak memiliki alat perlindungan. "Paus tidak memiliki rambut, rambut halus, atau bulu untuk melindungi tubuh dari paparan sinar matahari," katanya saat diwawancara Discovery.

Selain itu, Whitehouse juga mengungkapkan, "Hewan lain punya perilaku tertentu untuk melindungi, misalnya bersembunyi. Namun, paus tidak bisa melakukan itu. "Paus harus berenang ke permukaan laut untuk mendapatkan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuhnya. Hal itulah yang memicu luka bakar pada paus," urainya.

Sejauh ini, peneliti hanya menemukan dua cara adaptasi bagi paus, yaitu meningkatkan produksi pigmen dan apoptosis atau kematian sel kulit yang terprogram untuk membuang sel-sel yang rusak. Namun, peneliti tidak mengetahui apakah cara adaptasi tersebut bisa tetap melindungi paus dari luka bakar. Pasalnya, kerusakan ozon diperkirakan makin parah pada beberapa tahun ke depan.

Whitehouse percaya masih ada cara untuk menyelamatkan paus-paus itu. "Saya percaya kita mampu melakukan banyak hal untuk mengurangi kerusakan kulit paus akibat paparan sinar matahari. Kita harus mengurangi pemicunya, seperti dengan mengurangi polusi," ungkapnya. Pengurangan polusi sangat bermanfaat sehingga mencegah peningkatan kerusakan lapisan ozon.

Hasil studi ini dipublikasikan di Proceedings of the Royal Society B baru-baru ini.


EditorMarcus Suprihadi

Close Ads X