Awan Panas 65 Kilometer Cuma Gosip - Kompas.com

Awan Panas 65 Kilometer Cuma Gosip

Kompas.com - 08/11/2010, 01:26 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta Subandrio menegaskan bahwa kabar awan panas mencapai 65 kilometer dari puncak Gunung Merapi tidak benar. Info tersebut hanya gosip. Menurutnya, informasi tersebut hanya isu alias gosip semata.

"Masyarakat diminta tetap tenang dan jangan panik karena dalam sejarah Merapi belum pernah terjadi luncuran awan panas sejauh itu," katanya di Yogyakarta, Minggu (7/11/2010). Sebelumnya, sebuah informasi beredar melalui internet bahwa Gunung Merapi akan mengeluarkan awan panas sejauh 65 kilometer, seperti dikabarkan dalam tayangan infotainment Silet di RCTI.

"Masyarakat tidak perlu terpengaruh adanya isu tersebut dan luncuran awan panas tidak mungkin melampaui jarak hingga ke zona aman yang telah ditentukan, yaitu di luar 20 kilometer," katanya. Oleh karena itu, kata dia, masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti imbauan institusi yang berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK).

Subandrio mengatakan, awan panas memang masih terjadi. Kali Gendol malah saat ini sudah dipenuhi endapan awan panas karena awan panas terus-menerus terjadi sejak letusan pada 26 Oktober 2010. Kali Gendol sekarang sudah penuh dengan endapan awan panas. Apabila masih terus bertambah dengan volume yang sama, maka, jika ada awan panas, jarak luncur awan yang menuju ke sungai itu bisa jauh. Meskipun demikian, luncuran tidak akan lebih dari 20 kilometer.

"Namun, yang harus diwaspadai, awan panas Merapi saat ini terjadi terus-menerus dan setiap saat luncurannya bisa berubah arah," katanya. Jika ada warga yang masuk di zona tidak aman, maka kondisi ini sangat berisiko. "Oleh karena itu, agar warga tidak sering menengok ternak sapinya yang masih berada di zona tidak aman, sebaiknya sapi itu dibawa turun atau dievakuasi atau bagaimana caranya, lebih baik dijual," katanya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorTri Wahono

    Close Ads X