Keropos Gigi, Warisan Para Leluhur

Kompas.com - 01/11/2010, 12:38 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Duduk berselonjor di antara sisa-sisa rangka manusia prasejarah yang begitu rapuh, Ngadiran tampak begitu menikmati pekerjaannya. Satu per satu rangka manusia purba itu ia gambar sesuai dengan keletakannya. Inilah proses identifikasi akhir sebelum kotak galian ditutup kembali.

Hingga penggalian tahap kedua usai, sedikitnya 18 individu manusia penghuni gua yang sudah diidentifikasi. Sebagian besar rangka temuan dalam ekskavasi tim Puslitbang Arkenas di Gua Harimau—berada di perbukitan karst sekitar tiga kilometer dari Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan—itu relatif masih utuh. Satu di antaranya bahkan terlihat seperti orang menyeringai menahan rasa sakit.

"Lihat, ekspresinya persis kayak orang sakit gigi," kata Nurhadi Rangkuti, Kepala Balai Arkeologi Palembang, seraya menunjuk salah satu rangka di kotak galian nomor dua.

Meski sambil bergurau, Nurhadi Rangkuti sebetulnya tidak sedang bercanda. Hasil pengamatan Harry Widianto, ahli paleoantropologi yang juga adalah Kepala Balai Penelitian dan Pelestarian Situs Purbakala Sangiran, menguatkan dugaan itu. Bahwa, salah satu penyakit yang terlihat pada rangka-rangka manusia prasejarah dari Gua Harimau adalah adanya keropos gigi (karies) yang cukup signifikan.

Pada individu yang dirujuk Nurhadi, yang diidentifikasikan Harry sebagai laki-laki dewasa, kerusakan pada giginya terlihat begitu parah. Karies ini menyerang mulai dari mahkota gigi, akar gigi, dan berakibat pada bagian atas rahang bawah.

"Kondisi penyakit seperti ini akan memberikan rasa sakit luar biasa kepada si penderita," ujarnya.

Rupanya, dari hasil pengamatan Harry Widianto selama bertahun-tahun bergelut dengan sisa-sisa rangka manusia prasejarah, penyakit karies gigi seperti ini sangat menonjol pada ras Mongoloid. Bahkan, pada ras Mongoloid dengan budaya Austronesia yang merupakan cikal bakal sebagian besar manusia Indonesia (kecuali sejumlah kecil populasi di Indonesia bagian timur yang termasuk ras Australomelanesid) saat ini, fenomena karies gigi yang meluas tak hanya terjadi pada konteks prasejarah.

"Pada populasi manusia ras Mongoloid sekarang pun, seperti saya ini, juga banyak ditemukan mengidap penyakit karies gigi," kata Harry.

Terkait pola makan Berdasarkan ciri-ciri morfologis, kuburan massal manusia prasejarah di Gua Harimau memang menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari ras Mongoloid. Kecenderungan umum pada kehidupan manusia prasejarah ras Mongoloid lebih bertumpu pada kegiatan meramu tumbuhan. Model pola makan inilah yang diduga menjadi penyebab utama karies gigi pada mereka.

Berbeda dengan Homo erectus yang hidup selama masa Pleistosen (lebih dikenal dengan sebutan zaman es) dan ras Australomelanesid pada pertengahan pertama masa Holosen (sesudah Pleistosen). Kedua ras manusia prasejarah ini adalah pemburu sejati dan hanya sedikit meramu tumbuhan. Oleh karena itu, pola makan mereka lebih bertumpu pada protein hewani dan hanya sedikit mengonsumsi karbohidrat.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan Video Lainnya >

    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Pengertian Moonbow dan Proses Terbentuknya

    Pengertian Moonbow dan Proses Terbentuknya

    Fenomena
    Fosil Otak Tertua Ditemukan, Berusia 525 Juta Tahun

    Fosil Otak Tertua Ditemukan, Berusia 525 Juta Tahun

    Oh Begitu
    Mengenal Hiu Greenland, Ikan Hiu yang Bisa Hidup hingga 400 Tahun

    Mengenal Hiu Greenland, Ikan Hiu yang Bisa Hidup hingga 400 Tahun

    Oh Begitu
    5 Makanan Sehat untuk Menambah Berat Badan

    5 Makanan Sehat untuk Menambah Berat Badan

    Oh Begitu
    Ikan Tuna Mengandung Merkuri, Ini Cara Aman Mengonsumsinya

    Ikan Tuna Mengandung Merkuri, Ini Cara Aman Mengonsumsinya

    Oh Begitu
    Mengapa Piranha Memiliki Gigi yang Sangat Tajam?

    Mengapa Piranha Memiliki Gigi yang Sangat Tajam?

    Oh Begitu
    4 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan bagi Wanita

    4 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan bagi Wanita

    Oh Begitu
    Apa Makanan Ikan Piranha?

    Apa Makanan Ikan Piranha?

    Oh Begitu
    Penyebab Terbentuknya Pelangi Merah

    Penyebab Terbentuknya Pelangi Merah

    Fenomena
    Di Mana Sel Sperma Diproduksi?

    Di Mana Sel Sperma Diproduksi?

    Kita
    Cara Mencegah Resistensi Antimikroba dalam Perawatan Luka

    Cara Mencegah Resistensi Antimikroba dalam Perawatan Luka

    Oh Begitu
    Kandungan Susu Murni, Bisa untuk Menambah Berat Badan

    Kandungan Susu Murni, Bisa untuk Menambah Berat Badan

    Oh Begitu
    5 Ikan Hiu Tercepat di Dunia

    5 Ikan Hiu Tercepat di Dunia

    Oh Begitu
    Kencing Berbusa pada Anak, Apakah Berbahaya?

    Kencing Berbusa pada Anak, Apakah Berbahaya?

    Oh Begitu
    3 Manfaat Ikan Tuna Kalengan untuk Kesehatan

    3 Manfaat Ikan Tuna Kalengan untuk Kesehatan

    Oh Begitu
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.