Plasmulator, Alat Murah Kurangi Emisi

Kompas.com - 21/10/2010, 19:40 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Rekayasa knalpot untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor memang bukan hal baru. Beberapa tahun lalu sempat ada penemuan tentang penggunaan zeolit dan plasma untuk mengurangi emisi. Namun, penemuan tersebut tak banyak mendapat tanggapan karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk merekayasa dan mempertahankan fungsinya.

Kini, ada inovasi lain yang lebih efektif dan efisien dari penggunaan zeolit, yaitu plasmulator. Prinsip inovasi baru ini terbilang sederhana sebab hanya berdasarkan pada penggunaan elektroda yang bermuatan positif dan negatif untuk menarik zat lain yang bermuatan beda. Singkatnya, seperti kemampuan magnet untuk menarik logam.

Plasmulator ini dibuat dari bahan-bahan sederhana, yaitu kaleng minuman bekas, baling-baling kecil berbahan logam, dan dinamo DC 12 V. Kaleng minuman bekas dipotong salah satu sisnya kemudian sisi lainnya disisipi plasma dan dinamo di dalamnya. Plasma sendiri berisi kabel dengan karet pembungkus yang telah dikupas dan elektroda berbahan dasar logam, dikaitkan dengan sisi luar kaleng bekas dengan baut.  

Bagaimana cara plasmulator mengurangi emisi? Aliran gas yang keluar dari kendaraan bermotor akan menggerakan baling-baling. Energi gerak yang ada di baling-baling akan diubah menjadi energi listrik sehingga elektroda memiliki muatan tertentu. Muatan tertentu pada elektroda inilah yang akan membuat senyawa emisi kendaraan tertarik ke bagian plasma sehingga tak bisa dikeluarkan ke udara bebas.

Siswa-siswa yang menjadi inovator menyebut bahwa keunggulan alat ini ada pada biaya produksi yang murah sehingga bisa dijual dengan harga yang terjangkau. Dengan harga yang terjangkau, mereka menganggap bahwa banyak masyarakat yang akan membeli dan menggunakannya sehingga program pengurangan emisi kendaraan bermotor dapat berjalan.

Dibandingkan modifikasi knalpot dengan penambahan zeolit, metode yang disebut ionisasi ini lebih efisien. Masyarakat tak perlu menambahkan zeolit setiap periode tertentu seperti pada penemuan terdahulu, tetapi cukup membeli satu alat ini saja untuk selamanya, tinggal pemeliharaannya harus dilakukan sehingga tak cepat aus.

Soal kefektifan alat ini, para inovatornya sudah menguji apa yang mereka buat ini di BLH DIY lewat uji emisi. Dari hasilnya, sekitar 25,76 persen kadar CO2, 63,64 persen kadar nitrogen oksida, dan 24,35 persen kadar karbon monoksida berkurang. Nah, kalau ingin memanfaatkannya, para inovator mengatakan bahwa tiap orang bisa membuatnya sendiri karena prinsipnya sangat sederhana atau tunggu saja sampai produk macam ini dipasarkan.

Inovasi siswa SMU 1 Teladan Yogyakarta ini menjadi juara I di National Young Inventor Awards yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan diumumkan pada Kamis (21/10/2010). Selamat kepada anggota tim, Ikhsan Brilianto, Andreas Diga, dan Ahmed Reza.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X