Sinkretisme Intipan ala Lensa Manual

Kompas.com - 16/10/2010, 16:10 WIB
Editor

Oleh Gregorius Magnus Finesso

Satu topik seru yang terus-menerus diperdebatkan sebagian besar pencinta fotografi tak lain adalah "agama" mereka. Ya, merek kamera dan lensa tertentu seolah merupakan agama yang dipuja-puja serta menjadi alasan merendahkan jenis dan merek lain. Namun, paradigma ini coba dikikis anggota komunitas lensa manual. Mereka menyatukan keunggulan setiap merek untuk menghasilkan karya terindah.

Boleh dibilang, dalam hal kamera, kami sudah tidak beragama alias ateis. Keyakinan kami adalah seni fotografi itu sendiri. Seni mencari komposisi perangkat terbaik dengan memanfaatkan materi yang ada," tutur Hadiana (37), anggota Komunitas Lensa Manual Bandung, Jumat (15/10).

Kamera andalannya selama lima tahun terakhir adalah Nikon digital seri D 300. Namun, alih-alih memakai lensa merek sejenis seperti yang dilakukan para fanatik Nikon, pegawai administrasi di Universitas Pasundan ini justru mengandalkan lensa analog Canon FD 55 mm dengan diafragma 1,2.

Baginya, karakteristik lensa Canon yang dapat menangkap warna lembut berpadu anggun dengan sifat Nikon yang punya tingkat kontras tinggi. Kini, ia biasa "menggilir" tujuh lensa manual merek Jepang, Rusia, hingga Jerman, disesuaikan dengan obyek bidikannya. "Masing-masing lensa punya keunikan, seperti lensa pabrikan Jerman yang mampu menghasilkan latar belakang obyek lebih berpendar," kata Hadiana.

Terbatas dana

Lain lagi dengan Ervan Saputra (23), mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung, yang memakai lensa manual akibat keterbatasan dana untuk membeli lensa digital yang harganya bisa belasan juta rupiah. Ia cukup merogoh kocek Rp 650.000 untuk membeli lensa jenis Minolta MC Rokkor 58 mm.

Memang lensa manual tidak serta-merta bisa dipadupadankan dengan kamera digital. Dengan teori optik, dudukan lensa harus diubah. Selain itu, harus dipasang adapter dan mounting yang tepat supaya lensa bisa masuk ke kamera digital tertentu.

Untungnya ada Ujang Hidayat (41) yang mahir mengutak-atik lensa manual. Dari otak "baong"-nya, lensa Leica bisa dipakai kamera Canon, lensa Nikon dipasang pada kamera Fuji, bahkan tak jarang komponen tak terpakai dari berbagai lensa "dikanibal" menjadi lensa baru. Seolah paham sinkretisme, ia mencampuradukkan setiap keyakinan yang berbeda.

Menurut dia, Komunitas Lensa Manual Bandung memang sempat menamakan diri Budak Baong Bandung atau Anak Nakal Bandung. "Nakal di sini artinya kreatif. Kami berusaha menggunakan seluruh perangkat fotografi yang selama ini sering dikotak-kotakkan per merek," ujar Ujang yang juga Ketua Komunitas Lensa Manual Bandung.

Setengah tahun lalu, Ujang membentuk komunitas ini dengan merangkul para pembeli lensa manual di kios fotografinya. Kini, setidaknya ada 20 anggota aktif yang selalu berkumpul di kiosnya di Jalan Terusan Pasirkoja, Bandung. Di sana mereka bertukar pengalaman tentang lensa manual.

"Awalnya, apa yang kami lakukan kerap disebut aneh. Setidaknya kami mencoba menjadikan lensa-lensa yang hebat di zamannya tak berakhir jadi pajangan saja. Dengan sedikit sentuhan, lensa-lensa tadi bisa "dihidupkan" lagi," ungkapnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X