Tunggu Kesiapan PLTN Reaktor Fusi

Kompas.com - 24/08/2010, 03:33 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Pembangkit listrik tenaga nuklir dengan reaktor fusi yang lebih aman diperkirakan akan siap dikomersilkan pada 2020-2050. Pemerintah Indonesia disarankan untuk tak terburu-buru dan memaksakan pendirian PLTN dengan reaktor fisi karena lebih berbahaya.

”Jika tetap ingin membangun PLTN, sebaiknya menunggu teknologi baru yang lebih kecil risikonya,” kata anggota Dewan Energi Nasional (DEN) yang juga Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Rinaldy Dalimi di Jakarta, Senin (23/8).

Saat ini, semua PLTN yang ada menggunakan reaktor fisi dengan bahan bakar uranium. Limbah uranium itu menghasilkan radiasi yang berbahaya bagi manusia. Sedangkan reaktor fusi masih dalam penelitian. Reaktor ini menggunakan bahan baku air berat atau deuterium. Perkiraan operasional reaktor fusi ini beragam antara 2020 dan 2050.

Saat ini negara-negara pemilik PLTN sudah berencana mengganti reaktornya dengan reaktor fusi. Bahkan, negara-negara besar membiayai penelitian untuk mewujudkan reaktor fusi.

Rinaldy menyatakan, risiko penggunaan uranium dengan bahan baku energi lain, seperti batu bara dan gas, tidak dapat disamakan. Sampah uranium memang bisa dikelola dengan teknologi tinggi, tetapi teknologinya masih dikuasai negara-negara besar sehingga mahal. Hal itu membuat harga listrik dari PLTN fisi akan lebih mahal dibandingkan dengan harga listrik saat ini.

Kemampuan Indonesia membangun reaktor nuklir juga diragukan. Menurut dia, reaktor penelitian nuklir yang ada saat ini bukan dibangun oleh Indonesia. Ahli Indonesia hanya memasangnya saja.

Sementara itu, anggota DEN lainnya yang juga Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung Widjajono Partowidagdo mengatakan, jika penggunaan energi saat ini bisa dihemat, Indonesia masih akan terpenuhi kebutuhan listriknya hingga 2025. Penggunaan listrik saat ini sangat boros.

Kebutuhan pembangunan PLTN sebagai sumber listrik antara Indonesia dan negara lain berbeda. Negara-negara lain memiliki sumber energi yang terbatas, sedang Indonesia memiliki variasi sumber energi lebih banyak. Namun, sumber energi listrik yang aman dan murah itu belum tergarap, seperti air yang banyak terdapat di luar Jawa, gas, serta panas bumi yang harganya jauh lebih murah daripada minyak bumi.

”Gunakan dulu energi dari dalam negeri yang murah dan lebih aman,” ujarnya.

Kalaupun keputusan politik tetap memaksa pendirian PLTN fisi, Widjajono menyarankan agar Indonesia membangun PLTN bersama Singapura sehingga risiko keamanan dan biayanya dapat dibagi dan bisa saling mengawasi. Jika reaktor fusi sudah tersedia, sebaiknya menggunakan reaktor fusi. (MZW)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Oh Begitu
Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Fenomena
BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.