Kalender Bulan Vs Matahari

Kompas.com - 11/08/2010, 09:58 WIB
EditorA. Wisnubrata

Oleh M Zaid Wahyudi

Dari tahun ke tahun, awal bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri selalu maju rata-rata 11 hari dari tahun sebelumnya. Tahun 2009, awal Ramadhan jatuh tanggal 22 Agustus dan Ramadhan tahun ini dimulai 11 Agustus. Tahun depan, 1 Ramadhan diperkirakan bertepatan dengan tanggal 1 Agustus. 

Sistem penanggalan pada kalender Hijriah didasarkan pada perubahan fase Bulan, dari bulan penampakan hilal atau bulan sabit tipis ke hilal berikutnya. Satu periode hilal sama dengan satu periode sinodis Bulan, lamanya 29,5306 hari.

Berbeda dari kalender Masehi yang digunakan di seluruh dunia untuk kepentingan administrasi, kalender Bulan umumnya digunakan untuk keperluan ritual agama dan tradisi. Kedua kalender, satu tahun sama-sama terdiri dari 12 bulan. Satu tahun Hijriah memiliki 12 periode sinodis Bulan atau 354,366 hari. Dibulatkan jadi 354 hari atau 355 hari untuk tahun kabisat.

Kalender Masehi didasarkan atas peredaran Bumi mengelilingi Matahari dari satu titik tertentu yang disebut solstis atau equinox kembali ke titik itu. Lama perjalanan Bumi mengelilingi Matahari 365,2422 hari—disebut satu tahun tropis, dibulatkan menjadi 365 hari atau 366 hari untuk tahun kabisat.

Perbedaan jumlah hari dalam satu tahun Hijriah dan Masehi menyebabkan pelaksanaan ibadah Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan Idul Adha selalu maju 10-12 hari dari tahun sebelumnya. Selisih 10 hari lebih maju terjadi jika tahun kalender Hijriah adalah tahun kabisat dan tahun Masehi-nya adalah tahun biasa atau tahun basit (pendek). Sedangkan selisih maju 12 hari terjadi jika tahun Hijriah-nya tahun biasa dan tahun Masehi-nya termasuk tahun kabisat.

Sederhana

Menurut peneliti Observatorium Bosscha dan pengajar Sistem Kalender pada Program Pascasarjana Astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (9/8), sistem penanggalan Bulan banyak dipakai karena konsisten dan teratur. Fase Bulan terjadi berulang: bulan baru-bulan sabit muda-bulan separuh awal-bulan purnama-bulan separuh akhir-bulan sabit tua-bulan mati dan kembali ke bulan baru secara periodik. ”Perubahan wajah Bulan secara teratur di langit malam itu dicatat nenek moyang kita dan terciptalah penanggalan Bulan,” katanya.

Sistem penanggalan memakai Bulan sebagai acuan disebut penanggalan Bulan (lunar/qamariyah). Kalender Jepang juga menggunakan periodisitas penampakan Bulan.

Penanggalan yang menggunakan Matahari sebagai patokan, yaitu kalender Masehi atau kalender Kristiani atau penanggalan Matahari (Solar/Syamsiyah). Sedangkan kalender China dan Yahudi memadukan sistem penanggalan Matahari dan Bulan secara bersama-sama atau menggunakan sistem penanggalan Matahari-Bulan (Luni-Solar).

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

    Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

    Oh Begitu
    Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

    Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

    Fenomena
    Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

    Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

    Fenomena
    Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

    Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

    Fenomena
    Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

    Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

    Fenomena
    Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

    Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

    Fenomena
    Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

    Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

    Oh Begitu
    Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

    Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

    Fenomena
    Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

    Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

    Fenomena
    Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

    Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

    Oh Begitu
    Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

    Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

    Fenomena
    Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

    Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

    Fenomena
    Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

    Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

    Fenomena
    Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

    Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

    Oh Begitu
    Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

    Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

    Oh Begitu
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X