Herbal Belum Bisa Jadi Obat Kanker

Kompas.com - 20/07/2010, 09:41 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa orang percaya, mengonsumsi obat herbal dapat menyembuhkan dirinya dari penyakit kanker. Padahal penggunaan obat herbal sebagai obat pengganti untuk penyakit kanker hingga saat ini belum bisa dibuktikan secara saintifikasi.

"Menurut saya, kanker tidak ada obat penggantinya. Untuk menjadi obat pengganti, (obat herbal) harus ada saintifikasinya. Sementara untuk penelitian mengenai khasiat obat herbal belum banyak di lakukan di Indonesia dan secara uji saintifikasi belum pernah dibuktikan," kata Prof dr Edi Dharmana, peneliti herbal yang juga  guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro di sela peluncuran iklan layanan masyarakat di RS Dharmais, Jakarta, Senin (19/07/10).

Prof Edi mengingatkan, masyarakat harus hati-hati dan jangan mudah percaya pada apa yang didengung-dengungkan oleh iklan mengenai khasiat obat herbal sebagai pengganti obat sintetis pada penderita kanker.

Menurutnya, kebanyakan masyarakat percaya bahawa obat herbal dapat menyembuhkan kanker karena mengandung antioksidan dan zat yang yang berguna untuk menyembuhkan sel. "Selain itu, orang jaman sekarang percaya pada orang-orang jaman dahulu yang mengatakan bahwa tanaman herbal seperti seledri, temulawak dapat menyembuhkan penyakit maka sekarang dipercaya dapat mengobati penyakit kanker," tambahnya.

Pernyataan Prof Edi diamini oleh Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prijo Sidipratomo. "Masyarakat cenderung berpikir bahwa obat herbal dapat mengobati kanker karena berpikir obat konvensional awalnya juga dari herbal," ujarnya.

Padahal, pada kenyataannya obat-obat herbal yang ada di pasaran hanya berfungsi sebagai promotif (menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh), preventif (mencegah terkena penyakit), kuratif (pengobatan pendamping), dan rehabilitasi (bersifat memulihkan).

Lebih lanjut Prof Edi  menyatakan, hingga saat ini persepsi setiap orang sering dibutakan. Apabila mengkonsumsi obat herbal maka dirinya akan memperoleh kesembuhan dari kanker. Keadaan yang benar justru sebaliknya, kebanyakan obat herbal saat ini hanya digunakkan sebagai obat pendamping yang penggunaanya digabungkan dengan obat sintetis.

"Misalkan phaleria macrocarpo (mahkota dewa) penggunaanya dipercaya untuk mengobati kanker tulang. Padahal, konsumsinya mahkota dewa hanya digabungkan dengan obat konvensional untuk mengobati kanker," kata Prof Edi.

Prof Edi juga mengatakan, tanaman herbal yang dispesifikasikan di Indonesia menjadi obat herbal baru sekitar 300 spesies termasuk 5 jenis di dalamnya fitofarmaka, sehingga kesembuhan kanker melalui obat herbal sebagi pengganti obat sintetis masih harus melalui tahap yang panjang.  

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X