Hasil Terburuk Tenis Meja

Kompas.com - 17/12/2009, 12:27 WIB
Editorcay

VIENTIANE, Kompas.com - Latihan sekitar enam bulan di China, serta gaji sebesar 10.000 dolar AS (sekitar Rp94 juta) setiap bulan untuk membayar pelatih asing, menguap tidak berbekas karena tim tenis meja Indonesia hanya mampu membawa pulang satu medali perunggu dari ajang SEA Games 209 Laos.
    
Tenis meja Indonesia pun berkabung karena inilah hasil terburuk yang pernah dialami sepanjang sejarah keikutsertaan di pesta olahraga terbesar Asia Tenggara itu.
    
Padahal Indonesia pernah begitu digdaya di SEA Games dan prestasi fenomenal pernah dicapai Rossy Pratiwi dan kawan-kawan ketika menyapu bersih seluruh tujuh emas di Singapura pada 1993.  "Ya, memang ini adalah hasil terburuk yang pernah dialami Indonesia, saya harus akui itu. Dan untuk itu kami siap untuk diadili sesampai di Tanah Air," kata manajer Tonny Meringgi dan pelatih Ismu Harianto yang ditemui di Komplek Olahraga Universitas Nasional, tempat penyelenggaraan cabang olahraga itu.
    
Medali perunggu semata wayang tersebut diraih oleh beregu putra yang di semifinal dihentikan oleh Thailand.
    
Di SEA Games dua tahun lalu di Nakhon Ratchasima, Indonesia masih mampu membawa pulang perak melalui ganda putra M. Hussein/Reno Handoyo.
    
Di saat Indonesia terkulai, peningkatan pesat justru diperlihatkan oleh Vietnam yang selama ini tidak mempunyai tradisi emas. Semangat pantang menyerah dan motivasi tinggi membuat ganda putra berhasil meraih medali emas untuk menggagalkan ambisi sapu bersih Singapura.
    
Hebatnya lagi, ganda putra mereka Doan Kin Quoc/Dinh Qung Linh dan Tran Tuan Quynh/Nguyen Nam Hai mencipta final sesama Vietnam setelah membabat pasangan Singapura yang sudah mempunyai peringkat dunia, yaitu Gao Ning/Yang Zi dan Cai Xiaoli/Pang Xue Jie.
   
Sekarang peta kekuatan pun berubah karena Indonesia yang selama ini hanya memperhitungkan Singapura sebagai lawan terberat, juga tidak akan bisa menganggap enteng Vietnam, yang diam-diam membangun kekuatan untuk menjelma menjadi raksasa Asia Tenggara bersama Thailand.
    
Di balik kegagalan Indonesia di SEA Games 2009 Laos, yang menjadi pertanyaan banyak pihak adalah, apa saja yang dilakukan lima atlet yang sengaja dikirim ke China untuk berlatih, yaitu Ficky Supit, Gilang Maulana, Noor Azizah, Silir Rovani dan Muhammad Hussein.  "Saya tidak tahu apa program mereka selama latihan di China karena saya tidak kesana dan yang dikirim hanya atlet tanpa didampingi pelatih Indonesia untuk mengawasi," kata Tonny yang mantan atlet tenis meja nasional itu.
    
Tonny juga tidak bisa menjawab ketika ditanya mengapa PTMSI mengulangi hal yang sama seperti saat menghadapi Asian Games 206 di Doha.
    
Ketika itu, tim tenis meja juga berlatih di China, tapi akhirnya batal diberangkatkan ke Doha setelah menyadari bahwa para atlet tidak akan bisa mencapai hasil yang diharapkan.
    
Dari pengakuan beberapa atlet waktu itu, termasuk atlet senior David Jacobs dan atlet putri Christine, mereka diprogram latihan seperti atlet pemula tanpa pernah mengikuti kompetisi sebagai ujicoba.  "Saya tidak tahu mengapa hal itu diulangi lagi. Itu keputusan PB PTMSI," kata Tonny yang mengaku merasa malu dengan kejadian saat persiapan ke Asian Games 2006 Doha tersebut.
   
Banyak Faktor
 Sementara itu pelatih Ismu mengakui bahwa banyak faktor yang membuat prestasi Indonesia terpuruk dan faktor tersebut saling berkaitan. "Dari segi teknik permainan, sebenarnya Indonesia dan Vietnam hampir memiliki kualitas yang sama. Hanya saja, atlet seperti Vietnam lebih unggul dengan pengalaman bertanding dan didukung pula oleh semangat juang yang luar biasa," kata Ismu mencoba mencari perbandingan.
    
Menurut Ismu yang pernah tampil di Olimpiade, latihan di China selama bertahun-tahun dan ditangani pelatih asing pun bakal sia-sia jika tidak pernah mengikuti turnamen internasional.    "Bukan latihan di China dan pelatih asing yang dibutuhkan oleh atlet untuk mengasah kemampuan, tapi kompetisi di tingkat yang lebih tinggi agar mereka terbiasa dengan suasana pertandingan. Yang membedakan atlet kelas dunia dengan atlet Indonesia adalah kemampuan dalam mengatasi keadaan saat berada dalam angka kritis," kata Ismu.
    
Sejak awal, Ismu mengakui bahwa ia sudah melihat gelagat yang tidak baik pada saat persiapan. Ia yang sebenarnya fokus sebagai pelatih putra, justru  kemudian juga diminta untuk melatih tim putri.
    
Ceria Nilasari, atlet paling senior di kelompok putri yang pada awalnya ditugaskan sebagai pelatih, malah akhirnya terpaksa berlaga lagi dengan alasan untuk mengangkat moral pemain-pemain muda seperti Yudha Ngesti Pratiwi, Widya Wulansari dan Noor Azizah.
    
Hasilnya, di pertandingan beregu putri, Indonesia dibabat habis oleh Thailand, Malaysia dan Myanmar dengan skor telak 0-3.
    
Sementara itu Tonny Meringgi lebih banyak menyoroti hal-hal yang lebih bersifat non-teknis, seperti petinggi PB PTSMI yang juga ikut campur dalam menentukan pemain yang akan dikirim.  "Biarkan pelatih yang menentukan pemain yang akan dipilih karena merekalah yang lebih mengerti kemampuan pemain. Tapi yang terjadi justru sebaliknya," kata Tonny.
    
Tony juga mengaku tidak mengerti dengan pola pikir pelatih asal China Liu Gudong tiba-tiba mencoret program ke kejuaraan Asia di India pada Oktober lalu, padahal kejuaraan tersebut tidak saja penting sebagai uji coba, tapi juga untuk menjaga pergaulan Indonesia di tingkat Asia.  "Akibatnya, kita malah dapat peringatan dari federasi tenis meja Asia Tenggara karena tidak mengirim wakil kesana. Alasan pelatih, kejuaraan itu waktunya terlalu dekat dengan SEA Games," katanya.    
    
Untuk menyelamatkan tenis meja nasional, Tonny dan Ismu berharap agar semua pihak usai SEA Games 2009 duduk bersama untuk melakukan evaluasi tanpa harus saling menyalahkan dan masing-masing menjalankan tugas sesuai dengan peran masing-masing.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X