Kalpataru, Kembalikan Saja!

Kompas.com - 27/11/2009, 23:32 WIB
Editorprimus

PEKANBARU, KOMPAS.com - Patih Laman, tokoh masyarakat suku asli Talang Mamak, penerima Kalpataru pada 2003 berniat mengembalikan penghargaan lingkungan hidup itu. Pasalnya, dia kecewa hutan adat yang telah dijaganya ditebang habis dan tidak ada kepedulian pemerintah mempertahankannya.
   
"Kawasan hutan itu telah diperjualbelikan. Mengadu ke camat dan Dinas Kehutanan tidak ada tanggapan. Saya ingin ke Jakarta untuk  mengembalikan Kalpataru," ujar Laman di Rengat, Jumat (27/11).
   
Pada 5 Juni 2003 Laman memperoleh penghargaan Kalpataru dari pemerintah sebagai Perintis Lingkungan karena dinilai gigih menjaga penyelamatan hutan adat Talang Mamak yakni hutan  Panguanan dan Panyabungan  dan hutan Sungai Tunu seluas hampir 20.000 hektare.
   
Kawasan hutan yang dipertahankan Laman dari penjarahan dan jual beli ke perusahaan itu kini telah berupa hamparan tanah kosong, karena kawasan hutan tersebut telah ditebang habis baik oleh masyarakat pendatang maupun perusahaan yang mendapat izin dari pemerintah.
   
Hilangnya kawasan hutan itu menyebabkan Laman jatuh sakit karena hutan adat tersebut selama ini dipertahankannya. Masyarakat Talang Mamak hidup bergantung dari hasil hutan tersebut. "Pak Laman sangat kecewa menghadapi kenyataan bahwa kawasan hutan yang dijaganya itu kini telah gundul. Dia tak dapat berbuat apa-apa meskipun telah membawa kasus tersebut ke pemerintah tapi tidak ada tanggapan," ujar Ameng, salah seorang terdekat Laman.
    
Menurut  dia, hutan adat Sungai Tinu yang luasnya 10.000 hektare lebih kini telah berubah jadi kebun sawit milik perusahaan swasta sedangkan hutan Panguanan dan Panyabungan seluas 1.800 hektare dirambah masyarakat pendatang dan kini hanya tinggal sekitar 4 hektare.  
    
Ia mengatakan, hutan adat Panguanan dan Panyabungan berada dalam satu hamparan di dua desa  yakni Desa Sungai Ekok, Kecamatan Rakit Kulim dan Desa Durian Cacar, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu.
    
Bagian hutan adat itu di desa tetangga habis dijualbelikan oleh oknum desa dan sisa hutan empat hektare masih dipertahankan Laman bahkan ia menunggui kawasan tersebut dengan membuat pondok. "Ia bangun sendiri pondok dan menunggu hutan yang tersisa itu, bahkan ia tinggal di kawasan hutan itu," ujar Ameng.
    
Dia mengatakan, akibat sangat risau dengan kondisi hutan tersebut berdampak pula terhadap kondisi Laman yang telah berusia hampir 80 tahun. "Sampai manalah kemampuan Pak Laman memperjuangkannya. Suaranya tidak didengar pemerintah  dan itu sebabnya ia ingin mengembalikan penghargaan yang telah diperolehnya dari pemerintah," ungkap Ameng.
   
Patih Laman dikenal sebagai pemimpin masyarakat Talang Mamak. Perjuangannya mempertahankan hutan di lingkungan tempat tinggal Talang Mamak tidak hanya memberikannya penghargaan Kalpataru dari pemerintah RI tetapi juga badan konservasi internasional melalui penghargaan  WWF International Award for Conservation Merit 1999.                            

 



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Kita
Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Oh Begitu
Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Oh Begitu
Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Oh Begitu
Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Oh Begitu
Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Oh Begitu
6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

Oh Begitu
Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Oh Begitu
Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Oh Begitu
Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Oh Begitu
Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X