Kepler dan Pencarian Saudara Semesta

Kompas.com - 11/03/2009, 15:20 WIB
Editor


Oleh NINOK LEKSONO

KOMPAS.com - Jumat tanggal 6 Maret pukul 03.50 GMT, atau pukul 10.50 WIB, sebuah roket Delta II tinggal landas dari Stasiun Angkatan Udara Tanjung Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Di pucuk roket Delta ini terdapat sebuah instrumen yang amat penting, yakni Teleskop Kepler. Peluncuran berjalan mulus, dan sejam kemudian, Kepler terpisah seluruhnya dari tingkat tiga roket peluncur seperti direncanakan.

Misi Kepler adalah untuk menemukan planet di luar tata surya yang menyerupai Bumi. Jadi, yang akan dicari Kepler adalah planet kecil (tidak sebesar Jupiter atau Saturnus) dan berbatuan, yang mengorbit bintang induk (seperti Matahari) dengan jarak yang tepat. Artinya, jarak tersebut tidak terlalu dekat sehingga air mendidih, tetapi juga tidak terlalu jauh sehingga air membeku. Jarak yang ideal bagi kehidupan ini sering disebut sebagai ”Zona Bisa Didiami” (habitable).

Sejauh ini petunjuk soal adanya planet yang menyerupai Bumi tak banyak diperoleh karena penyelidikan yang dilakukan tidak cukup peka untuk menemukan planet seperti itu. Teleskop Kepler diharapkan mampu menjawab tantangan ini.

Menjelang peluncuran, Ilmuwan Kepala (Proyek) Kepler William Borucki di Pusat Riset Ames milik NASA di Moffett Field, California, mengatakan, ”Kalau ada banyak Bumi di luar sana, boleh jadi juga ada banyak kehidupan di sana - dan barangkali juga bahkan peradaban asing di sana yang menunggu kontak kita.” (New Scientist, 5/2)

Sebelum ini memang sudah ditemukan planet-planet yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan Bumi. Yang satu ditemukan oleh teleskop-teleskop di Bumi dengan menggunakan teknik lensa gravitasi dan lainnya ditemukan oleh Satelit Corot yang dijuluki ”Pengamat Makhluk Asing Eropa”. Corot diluncurkan tahun 2006 dan misinya adalah mengamati bintang yang kecerlangannya susut karena diduga ada planet yang lewat di depannya.

Selain itu, juga sudah diketahui dua planet yang diduga berbatu dengan ukuran beberapa kali massa Bumi yang mengorbit bintang katai merah Gliese 581, dan salah satunya mungkin ada di Zona Bisa Didiami, meski di perbatasan.

Gregory Laughlin, ilmuwan di Universitas California, Santa Cruz, yang memimpin riset planet-planet transit, mengakui bahwa deteksi planet terestrial seukuran Bumi yang punya orbit bisa didiami masih belum ada.

Teknik baru

Sebelum ini, penemuan sebagian besar planet luar tata surya (exoplanet) dilakukan dengan teknik kecepatan radial, yaitu dengan mengamati spektrum cahaya bintang untuk melihat apakah ada gerak maju dan mundur periodik yang disebabkan oleh tarikan gravitasi planet-planet bintang tersebut. Metode ini belum cukup sensitif untuk mendeteksi planet sekecil Bumi.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X