Perubahan Kelamin karena Sex Ambiguity

Kompas.com - 09/09/2008, 07:27 WIB
Editor

KASUS yang menimpa Nia Andina alias Nizar Ramadhan hanya terjadi pada satu dari 20.000 kelahiran. Namun demikian, menurut spesialis andrologi dari RSUD Dr Soetomo, dr Susanto Sp And, apa yang terjadi pada Nia tak bisa persis disebut sebagai kasus kelamin ganda atau hermaprodit.

“Lebih tepatnya adalah (kasus) ketidakjelasan jenis kelamin atau ambiguous genitalia atau sex ambiguity,” jelas Susanto ketika dihubungi Surya, Senin (8/9) malam.

Kelainan itu terjadi karena adanya sel yang tidak membelah dengan sempurna saat janin dalam kandungan, terutama pada sel kelaminnya sehingga membentuk dua kelamin.

Selanjutnya, untuk proses penanganan medis guna menentukan kecondongan kuat jenis kelamin, harus lebih dulu menjalani pemeriksaan berupa Cario Typing atau Sex Cromosome. Pemeriksaan tersebut berupa pengambilan darah, yang kemudian disaring menjadi inti sel yang dalamnya mengandung DNA. DNA inilah yang akan menunjukkan kromosom sel, yang salah satunya kromosom jenis kelamin. “Dari situ bisa ditentukan pilihan jenis kelamin apa yang lebih tepat,” kata Susanto.

Kelainan berupa ketidakjelasan jenis kelamin ini bervariasi bentuknya. Mulai dari hipospadia (kelainan pada saluran kencing) sampai bentuk kelamin luar (perempuan atau laki-laki) yang tak normal.

Hipospadia sering menyulitkan penentuan jenis kelamin, terutama pada bayi baru lahir. Pada kelainan ini, saluran kencing bayi tidak berakhir di ujung penis, tapi terputus di tengah saluran. Karena itu, jalan keluar urine ada di tengah bawah batang penis, pada daerah perineal di dekat anus atau di antara buah zakar.

Kalau lubang itu cukup besar, ini memberikan kesan mirip lubang kemaluan perempuan. Apalagi pada bayi baru lahir, buah zakar belum begitu besar atau belum turun dari rongga perut sehingga keberadaan lubang abnormal ini mengesankan kantong buah zakar seperti bibir vagina.

Kasus yang lebih kompleks disebut true hermaphroditism, yakni terdapat dua macam gonad (indung telur dan testis). Secara sitogenetik (ilmu tentang sel dan genetika), pada penderita terdapat dua macam kromosom seks, yaitu XY (laki-laki) dan XX (perempuan) dengan perbandingan bervariasi.

Keadaan ini disebut mosaicism. Pada kasus ini psikiater atau psikolog diharapkan lebih berperan, terutama dalam membantu menentukan pilihan jenis kelamin yang dikehendaki si penderita kelainan.

Kasus Ambiguous Genitalia ini sangat berbeda dengan kasus transjender atau operasi ganti kelamin. Ahli bedah plastik dari RSUD Dr Soetomo, Prof Dr dr Djohansjah Marzoeji Sp BP, menyebutkan, pada kasus transjender pasien memiliki bentuk kelamin yang jelas, tapi dia ingin mengubahnya menjadi kelamin yang berbeda.

“Hal ini terjadi akibat pengaruh kejiwaan si pasien yang berimbas pada perilaku,” ucap Djohansjah, yang menggemparkan dunia kedokteran Indonesia saat melakukan operasi transjender pada Dorce tahun 1980-an. (rie)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.