Dua Kawanan Gajah Menghilang Secara Misterius

Kompas.com - 29/08/2008, 00:42 WIB
Editor

BENGKULU, KAMIS - Sejak 2005 lalu, tim survai gajah Flora Fauna Internasional (FFI) mengaku kehilangan jejak dua kawanan/kelompok gajah Sumatera yang terdapat di Kabupaten Mukomuko. Hingga saat ini belum diketahui keberadaan sekitar 50 ekor gajah Sumatera tersebut.

"Terakhir tahun 2005 kita masih bertemu kawanan gajah itu, kita sebut kelompok Air Dikit berjumlah 30 ekor dan satu lagi kelompok Air Brau, kurang lebih 20 ekor," kata Muhammad Andri, tim survai Monitoring Harimau Gajah Sumatera (MHGS), yang diprakarsai LSM International (FFI), saat media trip menjelajah areal yang menjadi habitat gajah Sumatera di HP Air Teramang dan HPT Air Ipuh, Kamis (28/8).

Namun, sejak pertemuan terakhir itu, kata Andri, timnya tidak pernah lagi menemukan jejak kedua kelompok tersebut. Perkiraan sementara, anggota dua kelompok gajah itu bergabung dengan kawanan/kelompok gajah Air Teramang yang saat ini menjadi satu-satunya kelompok gajah Sumatera yang hidup di luar kawasan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara.

"Sebenarnya kita juga tanda tanya besar seolah-olah dua kawanan gajah ini hilang ditelan bumi", katanya. Dari hasil survei tahun 2007 dikatakannya, tim menemukan jejak dan kotoran dan diperkirakan 20 ekor gajah Sumatera di wilayah perbatasan Bengkulu-Jambi sekitar 10 Km dari Tanjung Kasri kabupaten Bangko Provinsi Jambi melintasi Taman Kerinci Sebelat (TNKS). Namun kemungkinan ini menurutnya sangat kecil karena jejak yang sangat jauh mencapai ratusan kilometer dengan perjalanan tiga hari dan topografi pegunungan yang terjal.

Polhut BKSDA Bengkulu yang diperbantukan di MHGS, Edi Kusuma mengatakan, hilangnya dua kelompok gajah ini cukup misterius. Setidaknya, kata dia, apabila gajah tersebut menjadi korban perburuan liar atau menjadi korban atas konflik antara gajah dengan manusia, pihaknya masih bisa menemukan bangkai gajah-gajah tersebut.

"Gajah itu memiliki jalur jelajah atau yang biasa kita sebut homreng yang secara rutin akan dilalui, tapi dua kelompok ini tidak pernah lagi berada di dua lokasi habitatnya itu," katanya. Pada tahun 1992, kata Edi, pihak BKSDA menurunkan 6 tim untuk menyurvei keberadaan Badak Sumatera namun di lapangan pada hari yang sama masing-masing tim bertemu kelompok gajah. Pada tahun tersebut bisa dipastikan terdapat enam kelompok gajah.

Penurunan populasi Gajah Sumatera, menurut Edi tergolong cepat. Hal ini berinteraksi positif dengan peningkatan jumlah perusahaan perkebunan swasta di wilayah ini. "Hampir seluruh areal HGU perkebunan ini dulunya adalah habitat gajah," tambahnya.

Peneliti dari Universitas Bengkulu (Unib), Rizwar menjelaskan, pada tahun 2001 lalu terdapat empat kelompok Gajah Sumatera yang hidup di habitatnya di hutan Bengkulu yang sebagian besar berada di kawasan Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbatas. Keempatnya, Kelompok Air KPG Seblat, Kelompok Air Teramang, Kelompok Air Dikit, Kelompok Air Brau. Dua kelompok terakhir inilah menurut tim MHGS tidak pernah ditemukan lagi jejaknya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X