Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Spesies Kutu Asia Ditemukan di AS, Bisa Bertelur Ratusan Tanpa Kawin

Kompas.com - 08/08/2018, 18:32 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis


KOMPAS.com - Belum lama ini ahli AS menemukan spesies kutu baru yang bisa menyedot darah dan membunuh hewan muda.

Kutu bertanduk panjang Asia itu telah ditemukan di tujuh negara bagian AS. Menurut ahli, ini adalah pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir ada spesies kutu dari belahan dunia lain tiba di AS.

Kutu ini merupakan ancaman bagi hewan, baik hewan peliharaan maupun ternak. Sejauh ini, tidak ada kutu yang menunjukkan tanda bahwa mereka membawa penyakit bagi manusia.

Menurut pemberitaan Newsweek, Selasa (7/8/2018), kutu bertanduk panjang ini ditemukan di Pennsylvania, New York, Arkansas, North Carolina, Virginia, West Virginia, dan New Jersey.

Baca juga: Inilah Rahasia Kesuksesan Kutu Daun, Bisa Memanipulasi Makanannya

Spesies ini pertama kali ditemukan saat musim panas lalu di New Jersey. Sebelumnya, tidak pernah ada kutu ini di AS.

Menurut laporan New York Times, spesies ini dapat menyebar dengan cepat ke seluruh negeri karena mereka memiliki sistem berkembang biak yang cepat. Mereka dapat menelurkan ratusan telur tanpa kawin.

Kutu bertanduk panjang ini berwarna cokelat dan akan berukuran sebesar kacang polong saat dewasa.

Saat masih berupa larva dan nimfa, ukurannya sangat kecil dan sulit dilihat dengan mata dewasa.

Seorang dokter hewan negara bagian AS David Wolfgang pun mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi spesies ini dan membedakannya dengan spesies lain.

"Sulit untuk membedakan spesies kutu. Sebab itu, penting untuk mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi hewan peliharaan, ternak, dan anggota keluarga dari serangan kutu apa pun," ujar David.

Baca juga: Temuan Baru, Kutu Busuk Sebabkan Masalah Kesehatan

Laboratorium Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) di Colorado telah menguji 100 kutu dan mencoba mengaitkannya dengan tiga virus yang bisa menyerang manusia. Hasilnya negatif, kutu itu tidak terbukti dapat merugikan manusia.

"Ahli masih belum dapat memperkirakan seberapa besar ancamannya. Kami masih berusaha untuk menjawabnya dan mengatasinya," kata Ben Beard, wakil direktur penyakit menular CDC kepada The New York Times.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com