Anak Ketergantungan "Ngedot", Tanda Apa dan Bagaimana Mengatasinya? - Kompas.com

Anak Ketergantungan "Ngedot", Tanda Apa dan Bagaimana Mengatasinya?

Kompas.com - 12/02/2018, 20:30 WIB
Ilustrasithinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Beberapa anak usia batita memiliki kegemaran minum lewat botol hisap, atau sering disebut dengan istilah ngedot. Terkadang, bahkan ada yang membawa kebiasaan itu hingga balita, membuat para ibu kewalahan.

Meta Herdiana Hanindita pun membagikan tips supaya anak mau berhenti ngedot dalam acara peluncuran dua buku karyanya yang berjudul Mommyclopedia, Panduan Lengkap Merawa Batita dan Tanya Jawab tentang Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak di Jakarta pada Jumat (9/2/2018).

Menurutnya, ketergantungan pada dot merupakan tanda bahwa anak memasuki fase sekuritas.

Pada fase ini, anak sedang mencari kenyamanan dari benda-benda di sekitarnya. Tidak hanya botol susu, anak sering kali ketergantungan dengan boneka yang sudah jelek, selimut yang bau, atau bahkan guling yang buluk.

Baca juga : Ajaib, Kisah Nyata Bayi yang Lahir dari Embrio Beku Berusia 24 Tahun

Rasa ketergantungan tersebut memicu anak tidak mau lepas dari benda-benda itu.

Orang tua perlu mencari benda lain yang bisa menggantikan fungsi dot tersebut. Misalnya gelas. Agar anak tertarik, bisa dipilih gelas dengan karakter kartun yang disukai anak.

Orangtua juga bisa menjelaskan secara logis alasan tak boleh ngedot lagi.

“Dot ini untuk anak bayi, kamu kan sudah besar. Pakai gelas, ya. Kalau pakai dot, nanti gigi kamu rusak,” kata Meta mencontohkan.

Orang tua jangan bosan untuk terus mengomunikasikan itu ke anak, supaya anak semakin yakin dan teringat pesan supaya tidak ngedot.

Baca juga : Benarkah Es Krim Bikin Anak Batuk dan Pilek?


Komentar
Close Ads X