Gara-gara Studi Ini, Hilang Sudah Alasan untuk Tidak Makan Serangga - Kompas.com

Gara-gara Studi Ini, Hilang Sudah Alasan untuk Tidak Makan Serangga

Kompas.com - 26/01/2018, 07:07 WIB
Bakmi ramen insect tsukemen ini ditaburi serangga goreng, yang disajikan di restoran Ramen Nagi, Tokyo, Jepang. Foto diambil pada 9 April 2017. Reuters/Kim Kyung-Hoon Bakmi ramen insect tsukemen ini ditaburi serangga goreng, yang disajikan di restoran Ramen Nagi, Tokyo, Jepang. Foto diambil pada 9 April 2017.

KOMPAS.com - Bagi sebagian orang, mengonsumsi serangga mungkin hal yang menggelikan dan menjijikkan. Sebagian lagi menolak serangga karena lapisan luarnya yang keras susah dicerna.

Meski begitu, serangga adalah hewan yang memiliki gizi tinggi. Bahkan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkap bahwa serangga adalah hewan yang memiliki lemak sehat, protein, serat, vitamin, juga tinggi mineral. PBB mengklaim ada lebih dari 1.900 spesies serangga yang bisa dimakan.

Selain itu, serangga juga makanan tradisional yang disantap seluruh negeri. Coba saja tanyakan pada orangtua atau kakek nenek Anda, mungkin mereka akan antusias saat menceritakan betapa nikmatnya memakan belalang, ulat pohon jati, laron, jangkrik, atau serangga lainnya.

Sebagai hewan kaya gizi, serangga sangat disarankan oleh para ahli untuk dikonsumsi. Seperti peneliti asal Amerika yang berhasil membuktikan bahwa serangga baik dikonsumsi oleh semua primata termasuk manusia modern.

Baca juga : Manusia Masa Depan Mungkin Harus Makan Serangga dan Rumput

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Biology and Evolution, Selasa (5/12/2017) ingin membuktikan bahwa perut manusia dan primata modern yang sudah berevolusi tetap bisa mengonsumsi serangga yang memiliki lapisan keras, meskipun selama ini beredar mitos bahwa perut kita sulit untuk mencerna serangga.

"Sudah lama kita memiliki pemahaman bahwa mamalia termasuk manusia tidak memiliki enzim yang bisa menghancurkan exoskeleton (pelindung keras) serangga, sehingga serangga dianggap susah dicerna. Tapi penelitian kami yang telah diujikan pada primata, membuktikan mitos tersebut tidak benar," kata Mareike Janiak, seorang kandidat doktor di Departemen Antropologi dan penulis utama penelitian dilansir dari Science Daily, Rabu (24/1/2018).

Janiak dan koleganya berhasil membuktikan bahwa semua primata termasuk manusia memiliki versi gen penghasil enzim di dalam perut yang bisa menghancurkan exoskeleton.

Hal ini ditemukan setelah tim peneliti melihat genom dari 34 primata. Mereka mencari salinan gen yang disebut CHIA, enzim perut yang bisa menghancurkan bagian terluar serangga yang keras.

Baca juga : Ngemil Serangga ala Angelina Jolie

Dari pengamatan tersebut, tim peneliti menemukan bahwa kita dan primata masih memiliki satu salinan gen CHIA. Hal ini jauh berbeda dari nenek moyang kita dan primata yang memiliki ukuran tubuh kecil dan memiliki tiga salinan CHIA. Hal ini juga membuktikan bahwa serangga adalah makanan penting di masa lalu.

Peneliti mengatakan, sistem di dalam perut berubah sejak manusia dan primata berevolusi menjadi lebih besar dan lebih aktif di siang hari.

" Makanan kemudian bergeser ke buah dan tumbuhan. Serangga menjadi kurang penting lagi, dan enzim pencernaan berubah menjadi hanya memiliki satu gen CHIA yang aktif untuk membantu mengunyah makanan yang keras seperti kulit serangga," kata Janiak.

Selain itu, peneliti juga meyakinkan bahwa serangga masih tetap bisa dimakan dan kaya gizi bila kita memasaknya terlebih dahulu.

Peneliti berkata tak ada salahnya untuk mencoba makanan tradisional yang dikonsumsi orang zaman dulu. Terlebih serangga sudah diklaim bergizi tinggi.


EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close Ads X