Ulang Tahun Ke-76, Bagaimana Stephen Hawking Hidup Lama dengan ALS? - Kompas.com

Ulang Tahun Ke-76, Bagaimana Stephen Hawking Hidup Lama dengan ALS?

Resa Eka Ayu Sartika
Kompas.com - 09/01/2018, 20:33 WIB
Stephen Hawking dalam video wawancara GMIC 2017GMIConference/Youtube Stephen Hawking dalam video wawancara GMIC 2017

 

KOMPAS.com - 8 Januari 2018 kemarin, fisikawan Stephen Hawking genap berusia 76 tahun. Ini menjadi sebuah keajaiban karena Hawking telah didiagnosis menderita penyakit neurologis amyotrophic lateral sclerosis (ALS) lebih dari 50 ahun lalu.

Pada 1963, lebih tepatnya saat Hawking berusia 21 tahun, dia didiagnosis penyakit ini dan dinyatakan hidupnya hanya tinggal 2 tahun.

ALS sendiri memiliki gejala awal seperti kram, otot tegang, serta kesulitan mengunyah dan menelan. Lama-kelamaan, orang dengan ALS juga kehilangan kemampuan bernapas dan menelan.

Kebanyakan orang akan meninggal dua sampai lima tahun ke depan setelah terdiagnosis, penyebabnya paling banyak karena gangguan pernapasan.

Baca juga: Stephen Hawking Akan Jadi Penderita ALS Pertama yang ke Luar Angkasa

Melihat hal ini tentu menjadi pertanyaan, bagaimana bisa Hawking bertahan selama 50 tahun dengan penyakit tersebut.

Sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti mengapa Hawking bertahan begitu lama dengan penyakit saraf tersebut. Tapi yang diketahui para peneliti adalah penyakit ini memang memiliki perkembangan bervariasi tergantung penderitanya.

Menurut Asosiasi ALS, meski rata-rata harapan hidup setelah diagnosis ALS hanya 3 tahun, sekitar 20 persen penderita berhasil bertahan 5 tahun, 10 persen bertahan 10 tahum, dan 5 persen dapat hidup lebih dari 20 tahun.

Salah satu faktor yang mungkin berperan dalam kelangsungan hidup pasien adalah genetika. Ilmuwan telah mengidentifikasi lebih dari 20 gen berbeda yang terlibat dalam ALS, ungkap Dr Anthony Geraci, direktur Neuromuscular Center di Northwell Health's Neuroscience Institute, New York.

"ALS mungkin 20 atau lebih penyakit berbeda saat kita mempertimbangkan dasar genetik," kata Geraci, yang tidak terlibat dalam pengobatan Hawking dikutip dari Live Science, Senin (08/01/2018).

Beberapa perbedaan genetik ini sepertinya mempengaruhi berbagai aspek penyakit, termasuk kelangsungan hidup penderitanya.

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa diagnosis ALS di usia muda juga dikaitkan dengan waktu bertahan yang lebih lama. Hawking sendiri didiagnosis penyakit ini dalam usia relatif muda, karena menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), biasanya penyakit ini diderita orang berusia antara 55-75 tahun.

Baca juga: Kabar Baik dari Ice Bucket Challenge untuk Pengobatan ALS

Badan Obat dan Pangan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui dua obat untuk mengobati ALS, yaitu riluzole dan edaravone. Masing-masing obat diklaim memperkuat harapan hidup selama 6 bulan.

Namun obat-obat tersebut kemungkinan tidak memperhitungkan waktu bertahan yang luar biasa seperti yang dialami Hawking, ungkap Geraci.

Para penderita ALS biasanya meninggal karena kegagalan pernapasan ketika sel saraf yang mengendalikan otot pernapasan berhenti bekerja, atau dari malnutrisi dan dehidrasi jika otot yang mengendalikan menalan memburuk, ungkap Dr Leo McCluskey, profesor neurologi dan dirktur medis di ALS Center, University of Pennsylvania kepada Scientific American pada 2012.

"Jika Anda tidak memiliki kedua hal ini, Anda bisa berpotensi hidup untuk waktu yang lama, meskipun penyakit ini makin parah," ujar McCluskey.

"Apa yang terjadi pada Hawking sungguh menakjubkan, dia pasti luar biasa," sambungnya

PenulisResa Eka Ayu Sartika
EditorResa Eka Ayu Sartika
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM