Ilmuwan Prediksi Letusan Besar Gunung Api Terjadi 17.000 Tahun Sekali - Kompas.com

Ilmuwan Prediksi Letusan Besar Gunung Api Terjadi 17.000 Tahun Sekali

Resa Eka Ayu Sartika
Kompas.com - 03/12/2017, 14:12 WIB
Erupsi Gunung Agung terlihat dari Kubu, Karangasem, Bali, 26 November 2017. Gunung Agung terus menyemburkan asap dan abu vulkanik dengan ketinggian yang terus meningkat, mencapai ketinggian 3.000 meter dari puncak. Letusan juga disertai dentuman yang terdengar sampai radius 12 kilometer.AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA Erupsi Gunung Agung terlihat dari Kubu, Karangasem, Bali, 26 November 2017. Gunung Agung terus menyemburkan asap dan abu vulkanik dengan ketinggian yang terus meningkat, mencapai ketinggian 3.000 meter dari puncak. Letusan juga disertai dentuman yang terdengar sampai radius 12 kilometer.

KOMPAS.com — Sangat sulit memprediksikan letusan gunung api. Namun, sejumlah ilmuwan tetap berusaha menggali pola dalam random-nya letusan sehingga bisa menyusun prediksi.

Pada penelitian sebelumnya, para ilmuwan menemukan bahwa sebuah letusan gunung yang dahsyat bisa terjadi setiap 45.000-174.000 tahun sekali.

Letusan dahsyat ini adalah letusan gunung yang mampu menutupi seluruh benua dengan abu vulkanik hingga mengubah pola cuaca di seluruh dunia dalam beberapa dekade.

Baca Juga: 4 Fakta Gunung Agung yang Perlu Diketahui

Kini, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters menunjukkan letusan besar berikutnya bisa lebih cepat dari yang kita perkirakan sebelumnya.

Namun, hitungannya bukan dalam waktu dekat, melainkan tetap ribuan tahun yang akan datang.

Profesor Jonathan Rougier dan timnya dari Universitas Bristol menggunakan basis data geologi dalam kurun waktu 100.000 tahun untuk menghasilkan perkiraan baru mengenai frekuensi letusan besar yang mungkin terjadi.

Mereka menyimpulkan bahwa letusan besar cenderung terulang pada interval antara 5.200 hingga 48.000 tahun sekali. "Tebakan terbaik" mereka terjadi setiap 17.000 tahun sekali.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa dua letusan besar terakhir terjadi antara 20.000-30.000 tahun yang lalu.

"Kita sedikit beruntung tidak mengalami letusan besar sejak saat itu," kata Profesor Rougier dikutip dari Independent, Rabu (29/11/2017).

Dr Marc Reichow, ahli geokimia dari Universitas Leicester yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa temuan tersebut didasarkan pada analisis statistik yang baik.

"Pendekatan dan penilaiannya kuat, dan tentunya akan membantu kita memahami dan yang terpenting dapat membantu memprediksi letusan di masa depan," ucap Dr Reichow.

Profesor Rougier mengatakan bahwa kurangnya letusan besar dalam 20.000 tahun terakhir tidak berarti letusan terdekat sudah di depan mata.

Baca Juga: Siklon Tropis Berpotensi Bawa Abu Gunung Agung ke Bandara Ngurah Rai

"Alam tidak bisa diprediksi," kata Profesor Rougier.

Namun, ia menekankan bahwa tantangan ditimbulkan oleh gunung berapi yang lebih kecil seperti Gunung Agung. Hal ini menimbulkan tantangan lingkungan sekaligus berpotensi menghancurkan masyarakat dan negara.

Atas dasar itu, Rougier mengatakan bahwa ada kebutuhan untuk mengantisipasi letusan besar, terutama dengan banyak masalah mendesak lainnya yang harus ditangani dan memengaruhi generasi sekarang dan masa datang.

"Serta meningkatkan pemahaman kita tentang vulkanisme global, penelitian kami mengembangkan teknik relatif sederhana untuk menganalisis catatan geologis dan historis yang tidak lengkap dan membingungkan mengenai kejadian langka," ujarnya.

"Kami berharap pendekatan kami akan digunakan untuk menilai kembali jenis bahaya lainnya, seperti gempa bumi," tutupnya.

PenulisResa Eka Ayu Sartika
EditorGloria Setyvani Putri
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM