Kenapa Prevalensi Demensia DI Yogyakarta Lebih Tinggi daripada Dunia? - Kompas.com

Kenapa Prevalensi Demensia DI Yogyakarta Lebih Tinggi daripada Dunia?

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 07/11/2017, 08:07 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com – Tahukah Anda, populasi lansia terbesar di Indonesia ada di DI Yogyakarta? Hal ini juga membuat prevalesi penyakit degeneratif seperti demensia tinggi di daerah ini.

Dipaparkan oleh Dr Ni Wayan Suriastini, M Phil dari Survey Matter di 20th Asia Pacific Regional Conference Alzheimer Disease International yang diadakan di Jakarta, Sabtu (4/11/2017); para peneliti melakukan survei terhadap 100 desa di DI Yogyakarta yang melibatkan 2.000 lansia dan 1.400 pengasuh.

Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi demensia di daerah tersebut mencapai 20 persen, lebih tinggi dari prevalensi global dalam semua kelompok usia.

Kenapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat setiap faktor yang diteliti oleh Dr Ni Wayan Suriastini dan kolega.

Baca juga : 10 Gejala Demensia Dini yang Patut Anda Waspadai

Jika dilihat dari faktor edukasi, para peneliti menemukan bahwa prevalesi demensia tertinggi ada pada kelompok yang tidak pernah menjalani pendidikan formal.

Hal yang sama juga ditemukan bila dilihat dari pekerjaan. Mereka yang tidak bekerja, terutama ibu rumah tangga, lebih rentan terkena demensia, disusul oleh para pria yang bekerja di bidang agrikultur.

Lalu, berdasarkan lokasi, warga DI Jogjakarta yang tinggal di area terpencil, seperti Gunung Kidul, lebih rentan terkena demensia daripada warga yang tinggal di Kota Yogyakarta.

Para peneliti pun mengonklusikan bahwa sebetulnya ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena demensia, yaksni usia yang lebih lanjut (80 tahun untuk pria dan 65 tahun untuk wanita), tinggal di daerah terpencil, edukasi rendah, stroke, dan tidak bekerja.

Baca juga : Punya Hobi dan Rutin Melakukannya Turunkan Risiko Demensia

Dr Ni Wayan Suriastini berkata bahwa faktor-faktor di atas dapat dikaitkan dengan kurangnya aktivitas yang menstimulasi otak.

Seorang ibu rumah tangga yang tinggal di daerah terpencil dan tidak pernah menjalani edukasi formal, misalnya, lebih jarang menjalani aktivitas yang menstimulasi otak bila dibanding dengan seorang bapak yang bekerja sebagai manajer di Kota Yogyakarta.

Permasalahan ini juga menjadi semakin kompleks setelah para peneliti mensurvei para pengasuh. Mereka menemukan bahwa hanya 0,3 persen dari pengasuh yang menganggap gejala awal demensia sebagai awal mula dari penyakit degeneratif tersebut.

Mayoritas sisanya menganggap demensia dan gejala-gejalanya sebagai bagian dari usia lanjut.

Untuk itu, Dr Ni Wayan Suriastini pun merekomendasikan agar evaluasi dilakukan dan kesadaran masyarakat akan gejala awal ditingkatkan. Dia juga mengingatkan untuk segera memulai pencegahan dan perawatan demensia.

“Semua usaha ini dibutuhkan untuk membuat kehidupan lansia menjadi lebih baik di masa depan,” tutupnya.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM