Heboh Pasangan Gay Adopsi Anak, Apa Kata Para Peneliti? - Kompas.com

Heboh Pasangan Gay Adopsi Anak, Apa Kata Para Peneliti?

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 11/10/2017, 21:07 WIB
Michael dan Kai Korok bersama anak yang baru mereka adopsi secara resmi.berliner-zeitung.de Michael dan Kai Korok bersama anak yang baru mereka adopsi secara resmi.

KOMPAS.com -- Pada tanggal 5 Oktober 2017 lalu, Michael dan Kai Korok menjadi pasangan sesama jenis pertama yang resmi mengadopsi anak di Jerman. Anak laki-laki yang diadopsi telah mereka asuh sejak lahir dan kini berusia dua tahun.

Ketika kabar tersebut diberitakan, tidak sedikit yang terkejut dan bertanya mengenai dampak dari memiliki orangtua sesama jenis terhadap perkembangan anak.

Salah satu studi yang paling komprehensif mengenai topik ini dipublikasikan pada bulan Januari 2015.

Dalam studi tersebut, para peneliti dari Columbia Law School mengevaluasi 76 studi yang dipublikasikan sejak tahun 1985. Untuk dipertimbangkan, setiap studi harus memenuhi kriteria mengenai kredibilitas, relevansi, dan manfaat.

(Baca juga: Michael dan Kai, Pasangan Gay Pertama yang Resmi Adopsi Anak di Jerman)

Dari 76 studi, hanya empat yang mengonklusikan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh pasangan sesama jenis mengalami kesulitan karena orientasi seksual orangtuanya.

Hasil serupa juga didapatkan oleh para peneliti dari University of Colorado Denver dan University of Oregon.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Social Science Research volume 53, para peneliti menggunakan perangkat Web of Science untuk mengamati bagaimana laporan-laporan sains menganalisis anak-anak dari pasangan sesama jenis dan mengutip laporan lain untuk mengulas analisis mereka.

Para peneliti menemukan bahwa jumlah laporan yang mengutip laporan lain soal kasus ini semakin banyak. Sejumlah laporan tersebut mengonklusikan bahwa tidak ada perbedaan antara anak-anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis, heterokseksual, atau orangtua tunggal.

(Baca juga: Pasanganmu Gay, Straight, atau Bi? Kecerdasan Buatan Baru Bisa Deteksi)

Dikutip dari The Quartz 25 Juni 2017, Jimi Adams, seorang sosiolog dari University of Colorado, Denver, yang juga menulis studi tersebut mengatakan, saya menemukan bukti yang sangat banyak bahwa para peneliti setuju mengenai tidak adanya dampak negatif terhadap anak-anak dari pasangan sesama jenis.

Akan tetapi, tidak semua studi setuju akan konklusi tersebut. Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh pastor Katolik dan profesor sosiologi di Catholic University, Paul Sullins, adalah salah satunya.

Laporan Sullins yang dipublikasikan dalam British Journal of Education, Society and Behavioural Science menyebutkan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh pasangan sesama jenis dua kali lipat lebih sering mengalami masalah emosional daripada anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua heteroseksual.

Namun, metodologi yang digunakan Sullins untuk menemukan konklusi tersebut dikritik. Pasalnya, Sullins tidak mempertimbangkan status hubungan pasangan sesama jenis dalam studi, apakah mereka masih bersama atau telah berpisah.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberQuartz

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM