Para Peneliti Menguji Obat Psikedelik pada Otak Buatan, Ini Hasilnya - Kompas.com

Para Peneliti Menguji Obat Psikedelik pada Otak Buatan, Ini Hasilnya

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 10/10/2017, 21:49 WIB
Otak buatan atau organoidHoffman-Kim lab/Brown University Otak buatan atau organoid

KOMPAS.com –- Obat psikedelik digadang punya kemampuan untuk menjadi obat antidepresan. Salah satunya yang lagi beken adalah tanaman ayahuasca yang dapat dijumpai di hutan hujan Amazon.

Untuk membuktikan khasiatnya, tim peneliti dari Brazil yang dipimpin oleh Stevens Rehen, Professor Federal University of Rio de Janeiro (UFRJ) dan Kepala Peneliti di D'Or Institute for Research and Education (IDOR), sampai membuat otak mini di laboratorium. Mereka ingin tahu lebih jauh efek dari ayahuasca pada otak manusia.

(Baca juga: Bisa Bikin Orang Seperti Tidak Waras, Apa Saja Efek PCC?)

Otak buatan atau organoid itu ditumbuhkan selama 45 hari dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama direndam dengan senyawa yang diisolasi dari ayahuasca, sedangkan sisanya direndam dengan alkohol dan senyawa normal.

Para peneliti lalu memperhatikan perbedaan jumlah protein untuk mengetahui efek ayahuasca.

Pada organoid yang direndam ayahuasca, protein yang terkait dengan proses dasar memori timbul lebih banyak. Perubahan lainnya adalah efek anti-inflamasi yang dianggap sebagai anti-depresan.

D'OR INSTITUTE FOR RESEARCH AND EDUCATION (IDOR) Reseptor yang merespons DMT

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam Scientific Reports ini juga memiliki batasannya.

Salah satunya adalah ukuran organoid yang hanya 5-6 milimeter, setara dengan otak embrio berusia 3-4 bulan. Para peneliti menumbuhkan organoid hanya sampai ukuran tersebut karena otak yang lebih besar butuh nutrisi dan oksigen dari aliran darah.

Akan tetapi, hal ini berarti hasil penelitian tidak bisa diaplikasikan begitu saja pada otak manusia dewasa.

(Baca juga: Hati-Hati, 5 Obat Psikotropika Ini Paling Mudah Disalahgunakan)

"Ini adalah studi yang menarik," kata Michal Stachowiak, peneliti di Universitas Buffalo seperti dikutip dari Newsweeek pada Senin (9/10/2017).

"(Tapi) saya tidak yakin modelnya dikembangkan dengan benar. Saya skeptis model ini bisa digunakan untuk mencerminkan otak manusia dewasa yang penuh neuron," ujarnya lagi.

Meski demikian, metode ini bukan sama sekali tidak berguna. Stachowiak berkata bahwa organoid bisa diaplikasikan untuk penelitian lainnya, terutama penyakit yang menjangkit otak pada tahap awal perkembangan, seperti skizofrenia, zika, dan autisme.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberNewsweek

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM