Rapor Kesehatan Global Dirilis, Bagaimana Nilai Indonesia? - Kompas.com

Rapor Kesehatan Global Dirilis, Bagaimana Nilai Indonesia?

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 17/09/2017, 20:04 WIB
Ilustrasi lansiaDragonImages Ilustrasi lansia

JAKARTA, KOMPAS.com -– Penelitian tentang kesehatan global, yang disebut dengan Studi Beban Penyakit atau Global Burden of Disease Study (GBD), menggambarkan fenomena kesehatan masyarakat di seluruh dunia pada tahun 2016.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet tersebut melibatkan lebih dari 2.500 kolaborator dari 130 negara dan wilayah yang dikoordinasikan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington, Seattle.

Para peneliti melaporkan bahwa selama tahun 2016, terjadi penurunan angka harapan hidup dan kematian akibat penyakit menular jika dibandingkan dengan kondisi pada satu dekade yang lalu, yakni tahun 2006. Akan tetapi, kematian akibat penyakit tidak menular dan konflik justru meningkat.

(Baca juga: Rapor Kesehatan Global: Inilah Penyebab Utama Kematian di Dunia)

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apa kemajuan dan tantangan di bidang kesehatan bagi salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia ini?

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, kesempatan hidup warga Indonesia mengalami peningkatan dibandingkan dengan 2006.

Seorang anak laki-laki yang lahir pada tahun 2016 punya kesempatan hidup hingga 69,8 tahun. Perkiraan ini naik 2,4 tahun bila berkaca pada satu dekade silam. Sementara itu, anak perempuan, punya umur lebih panjang, yakni 73 tahun, meningkat 3,4 tahun dibandingkan satu dekade lalu.

Sayangnya, berbagai penyakit dan cidera dapat mengurangi usia harapan hidup sehat. Dengan analogi yang sama, seorang anak laki-laki yang lahir pada 2016 hanya akan hidup sehat sampai 61,8 tahun, sedangkan anak perempuan hingga 64,2 tahun.

(Baca juga: Ini PR Kesehatan Kita hingga 10 Tahun ke Depan Menurut Bill Gates)

Pencapaian Indonesia ini sebetulnya belum bisa dibanggakan. Jika melihat ke negara tetangga, seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Australia, Indonesia masih tertinggal dalam usia harapan hidup sehat.

Setidaknya, ketertingalan Indonesia dalam angka harapan hidup sehat ini disebabkan oleh lima penyebab utama kematian dini, yakni penyakit jantung iskemik, stroke, diabetes, neonatal, dan kelahiran prematur. Sementara itu, nyeri pinggang, migrain, dan kehilangan pendengaran membuat masyarakat Indonesia hidup dalam keterbatasan.

“Indonesia telah mencatat kemajuan besar selama 25 tahun terakhir. Berhasil meningkatkan usia harapan hidup, menurunkan beban kesehatan dari masalah penyakit TBC, neonatal, kelahiran prematur, serta penyakit diare,” kata Dr. Soewarta Kosen, salah satu peneliti yang terlibat dalam GBD dan Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

“Namun demikian, peningkatan beban dari penyakit mematikan dan dapat dicegah seperti jantung, stroke, dan diabetes patut diperhatikan. Memerangi penyakit ini dibutuhkan komitmen, fokus, dan investasi,” lanjut Soewarta.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM