Rapor Kesehatan Global: Inilah Penyebab Utama Kematian di Dunia - Kompas.com

Rapor Kesehatan Global: Inilah Penyebab Utama Kematian di Dunia

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 16/09/2017, 20:07 WIB
IlustrasiKatarzynaBialasiewicz Ilustrasi

KOMPAS.com -– Global Burden of Disease Study atau Studi Beban Penyakit yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menampilkan hasil yang membahagiakan sekaligus memprihatinkan.

Jumlah kematian akibat penyakit menular dan kematian prematur memang menurun, terutama pada populasi balita. Namun di sisi lain, angka kematian dari penyakit tidak menular dan kematian akibat konflik justru meningkat.

Studi ini dikoordinasikan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dari University of Washington, Seattle dengan melibatkan lebih dari 2.500 kolaborator dari 130 negara dan wilayah, termasuk Indonesia, serta 13 miliar data.

(Baca juga: Ini PR Kesehatan Kita hingga 10 Tahun ke Depan Menurut Bill Gates)

Pada tahun 2016, sebanyak 54,7 juta orang meninggal di seluruh dunia. Dari jumlah itu, hampir tiga perempatnya (72,3 persen) berasal dari penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, dan kanker.

Bila ditengok ke belakang, selama satu dekade sejak 2006, terjadi peningkatan sebesar 16 persen atau 5,5 juta orang. Biang keladi terbesar adalah penyakit jantung iskemik yang membuat 9,5 juta orang meninggal, disusul oleh diabetes yang menyebabkan 1,4 juta kematian pada tahun 2016, naik 31 pesen sejak 2006.

Sementara itu, konflik dan terorisme mencatatkan angka kematian sebesar 150.500, naik 143 persen sejak 2006. Para peneliti menyebutkan bahwa konflik yang baru saja terjadi di Syria, Yaman, Sudan Selatan dan Libia merupakan ancaman besar bagi masalah kesehatan, baik dilihat dari sisi terjadinya korban-koban maupun bagaimana mereka harus hidup dalam kondisi fisik dan mental yang disebabkan.

Kabar baiknya, terjadi peningkatan kesehatan di seluruh dunia pada 2016. Hanya 19 persen kematian yang terdiri dari penyakit menular, penyakit selama masa kehamilan dan persalinan, neonatal (masa bayi baru lahir) dan kekurangan gizi. Bila dibandingkan dengan satu dekade lalu, angka kematiannya menurun hampir 24 persen.

Pada tahun 2016 sendiri, jumlah kematian anak di bawah usia 5 tahun turun hingga di bawah 5 juta untuk kali pertama dalam sejarah modern - penurunan 16,4 juta kematian terjadi pada tahun 1970 dan 11 juta pada 1990.

Angka kematian akibat HIV/AIDS di kalangan anak dan dewasa juga turun sejak 2006 menjadi 46 persen, lalu malaria juga menurun 26 persen.

Para peneliti berpendapat bahwa kemajuan ini terjadi karena keseriusan berbagai negara dalam mengurangi angka kematian anak dibawah 5 tahun, termasuk peningkatan pendidikan para ibu, peningkatan pendapatan per kapita, penurunan tingkat kesuburan, digalakannya program vaksinasi, penyebaran kelambu berinsektisida, peningkatan kebersihan air dan sanitasi, serta berjalannya sejumlah program kesehatan.

Tak hanya itu, para peneliti juga membawa kabar baik lainnya. Secara global, angka harapan hidup rata-rata menjadi 72,5 tahun (75,3 tahun untuk perempuan dan 69,8 tahun untuk laki-laki).

Tentu saja ini adalah hasil menggembirakan. Pada 1990 misalnya, angka harapan hidup rata-rata hanya 65,1 tahun, sedangkan tahun 1970 lebih buruk, hanya 58,4 tahun.

Dari sisi negara, Jepang pantas berbangga. Negara matahari terbit itu punya harapan hidup tertinggi pada 2016 dengan 83,9 tahun. Sebaliknya, Afrika Tengah perlu berbenah. Harapan hidup warganya paling rendah, yakni 50,2 tahun.

Secara garis besar, selama periode 10 tahun, tingkat kematian dari penyakit menular, maternal, neonatal, dan gizi menurun 32 persen. Sementara itu, tingkat kematian akibat penyakit tidak menular hanya turun 12 persen.

Namun, yang tak bisa disepelekan adalah pengguna opioid, amfetamin, dan penggunaan obal lain yang menaikkan tingkat kematian. 1,1 miliar orang di seluruh dunia kehilangan nyawanya akibat gangguan kesehatan mental atau penggunaan obat. Kondisi itu terutama terjadi pada negara-negara berpenghasilan tinggi

“Kematian merupakan motivator yang sangat kuat, baik bagi perorangan maupun pemerintah setiap negara, untuk segera menangani penyakit-penyakit yang telah membunuh kita dengan angka kematian yang sangat tinggi," kata Dr Christopher Murray, salah satu penulis studi dan Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington, Seattle seperti yang dikuti dari siaran pers.

“Tetapi, kita juga masih perlu tambahan motivasi untuk menangani dan mengatasi masalah masalah yang menyebabkan timbulnya penyakit. ‘Tiga serangkai’ – obesitas, konflik dan kesehatan mental, termasuk penyalahgunaan obat – merupakan kendala utama yang mengancam gaya hidup sehat dan aktif," ujarnya lagi.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM