Riset Awal Tunjukkan, Produk Pembersih Bisa Picu Penyakit Paru - Kompas.com

Riset Awal Tunjukkan, Produk Pembersih Bisa Picu Penyakit Paru

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 15/09/2017, 19:59 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com – “Bersih” menjadi kata penting dalam kehidupan manusia. Tanpa itu, virus dan bakteri dapat berkembang dan membuat penyakit. Bahkan, bersih dianggap sebagai bagian dari iman kepada Tuhan.

Namun, ungkapan “tidak ada makan siang gratis” juga berlaku untuk mendapatkan lingkungan yang higienis.

Penggunaan bakan kimia secara berlebihan untuk urusan bersih-bersih justru menimbulkan penyakit yang tak kalah berbahaya.

Penelitian terbaru yang dipresentasikan di European Respiratory Society International Congress minggu ini mengungkap, penggunaan terlalu banyak pemutih dapat meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

PPOK merupakan istilah untuk menggambarkan penyakit paru progresif seperti emfisema, bronkitis kronis, dan beberapa bentuk asma.

Para peneliti melakukan studinya di rumah sakit - tempat yang diharuskan selalu bersih - dengan sampel populasi para suster di Amerika Serikat.

Hasil riset mengungkap, membersihkan lantai dengan pembersih yang mengandung desinfekstan, minimal seminggu sekali, ternyata meningkatkan risiko 24 hingga 32 persen terjangkit PPOK selama delapan tahun masa studi.

Dalam penelitiannya, para peneliti melakukan penyesuaian terhadap faktor risko PPOK lainnya, seperti usia, status merokok, indeks massa tubuh, dan etnis.

"Temuan kami memberikan bukti lebih lanjut tentang efek paparan disinfektan pada masalah pernafasan, dan menyoroti urgensi untuk mengintegrasikan pertimbangan kesehatan kerja ke dalam pedoman pembersihan dan disinfeksi di tempat layanan kesehatan seperti rumah sakit," kata salah satu peneliti, Orianne Dumas, ahli paru di French Institute of Health and Medical Research.

Baca Juga: Gula Rendah Kalori Tak Bantu Turunkan Berat Badan

Dumas dan timya menggunakan 55.185 perawat tanpa riwayat PPOK. Kesehatan mereka diikuti selama delapan tahun yang berakhir pada Mei 2017 lalu. Setelahnya, 663 perawat didiagnosis mengidap PPOK.

Dari populasi awal, lebih dari sepertiga suster menggunakan disinfektan untuk membersihkan lantai setiap minggu.

Terdapat bahan-bahan dalam pembersih yang terkait risiko PPOK, antara lain glutaraldehida, pemutih, hidrogen peroksida, alkohol dan senyawa amonium kuaterner (juga dikenal sebagai "quats").

"Apakah memakai sarung tangan atau menggunakan masker wajah akan mengurangi risikonya belum diselidiki secara resmi," kata Dumas.

"Menghindari penggunaan produk dalam bentuk semprotan bisa membantu mengurangi paparan inhalasi," katanya.

American Lung Association (ALA) menyebutkan, ammonia dan pemutih berkontribusi terhadap masalah kesehatan.

Mencampurkan ammonia dan pemutih dapat menghasilkan gas yang mematikan bila dihirup.

Tak hanya perawat, rumah tangga juga menggunakan produk pembersih juga mengandung risiko serupa. Hampir setiap hari, produk pembersih digunakan untuk mengepel lantai.

"Beberapa disinfektan ini, seperti pemutih dan quat, sering digunakan di rumah biasa, dan dampak potensial penggunaan disinfektan domestik terhadap pengembangan PPOK tidak diketahui," tambah Dumas seperti dikutip Newsweek, Senin (11/9/2017).

"Penelitian sebelumnya menemukan hubungan antara asma. dan paparan produk pembersih dan disinfektan di rumah, seperti pemutih dan semprotan, jadi penting untuk menyelidiki hal ini lebih jauh,” jelasnya.

Meski demikin, penelitian Dumas dan timnya barulah tahap awal. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengetahui mengapa PPOK bisa terjadi.

Dumas berhipotesis bahwa stress oksidatif dan peradangan neutrofil yang disebabkan oleh penghirupan produk pembersih mungkin memiliki peran dalam pathogenesis PPOK.

Baca Juga: Makhluk Tercerdik Itu Bernama Mikroba

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorYunanto Wiji Utomo

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM