Kisah Acoustic Kitty, Eksperimen Hewan CIA yang Berakhir “Tragis" - Kompas.com

Kisah Acoustic Kitty, Eksperimen Hewan CIA yang Berakhir “Tragis"

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 09/08/2017, 22:10 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com -- Ada banyak legenda urban mengenai Badan Intelijen Pusat ( CIA) dan eksperimennya yang tidak manusiawi. Walaupun mayoritas tidak diketahui kebenarannya, tetapi ada satu proyek yang benar-benar terjadi dan berakhir tragis.

Proyek ini adalah Acoustic Kitty yang terjadi pada tahun 1960-an. Dilaporkan oleh Tom Vanderbilt dari Smithsonian Magazine, CIA mendapatkan ide untuk menggunakan hewan sebagai mata-mata pada masa Perang Dingin.

Pilihan pun jatuh pada kucing yang menurut para peneliti, memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi.

(Baca juga: Riset Ungkap Cara Kucing Merebut Hati Manusia)

Rencananya, kucing Acoustic Kitty akan dipancing menggunakan petunjuk audio menuju ruangan para pemimpin Soviet. Kucing kemudian akan mendengarkan pembicaraan mereka dan merekamnya.

Namun, cara CIA mengubah kucing menjadi mata-mata sangatlah mengerikan. Diceritakan oleh Victor Machetti, mantan asisten direktur CIA, inti dari Acoustic Kitty adalah menciptakan “FrankenKitty”.

“Mereka membuka kucing tersebut, memasukkan bateri ke dalamnya, (dan) menghubungkannya dengan elektronik. Mereka menciptakan monster,” tulisnya dalama buku The Wizards of Langley: Inside the CIA's Directorate of Science and Technology.

Hal ini mungkin terdengar tidak masuk akal. Namun, pada tahun 1960-an, CIA memang seringkali terlibat dalam eksperimen-eksperimen yang tidak manusiawi, termasuk MK Ultra yang menyeret organisasi ini ke sidang kongres AS.

(Baca juga: Ini Sebabnya Kucing dan Anjing Suka Kepalanya Dielus)

Dituturkan dalam buku Spycraft: The Secret History of the CIA's Spytechs from Communism to Al-Qaeda yang ditulis oleh mantan direktur Kantor Pelayanan Teknis CIA, jurnalis teknologi dan kontraterorisme, dan pendiri Museum Mata-mata Internasional di Washington DC; proyek Acoustic Kitty menghabiskan waktu lima tahun.

Pasalnya, kucing mata-mata harus tetap tampak seperti kucing biasa tanpa tonjolan dan bekas luka.

Untuk itu, CIA pun bekerjasama dengan kontraktor peralatan audio untuk menciptakan pemancar kecil berukuran kurang dari dua sentimeter. Pemancar ini kemudian ditanam pada bagian bawah tengkorak kucing.

Untuk mikrofonnya, organisasi ini sempat mengalami kesulitan hingga akhirnya mereka mendapat ide untuk meletakannya di kanal telinga. Bateri pun sengaja dipilih yang terkecil karena ukuran tubuh kucing terbatas.

Sementara itu, antena Acoustic Kitty terbuat dari kabel tipis yang menjulur dari kepala hingga ekor dan disembunyikan di dalam bulunya yang panjang.

Akan tetapi, semua pemilik kucing tahu bahwa hewan ini tidak dapat dikendalikan oleh manusia dan memiliki rentang perhatian yang sangat buruk. Marchetti menulis, mereka mendapati bahwa kucing (Acoustic Kitty) akan meninggalkan pekerjaannya ketika lapar.

Oleh karena itu, CIA pun memutuskan bahwa mereka harus melatih kucing Acoustic Kitty terlebih dahulu sebelum menugaskannya. Bersama dengan pembuatan peralatan, operasi, dan pelatihan; biaya Acoustic Kitty dengan cepat menggelembung hingga 20 juta dollar AS atau sekitar Rp 267 miliar.

Namun, semua usaha CIA hilang sia-sia dalam satu latihan untuk melihat apakah kucing Acoustic Kitty bisa mendengarkan pembicaraan pengunjung taman tanpa terganggu oleh lingkungannya. “Mereka mengeluarkannya dari mobil, dan sebuah taksi datang dan menabraknya. Mereka terduduk di sana dengan semua peralatan yang ada, dan kucing itu sudah mati!” tulis Marchetti.

Kepada The Telegraph, Jeffrey Richelson dari Arsip Badan Keamanan Nasional (NSA) berkata bahwa dia merasa senang proyek tersebut terhenti di situ. “Aku tidak tahu berapa lama misi ini akan berlanjut jika kucing tersebut tidak tertabrak pada saat itu juga,” katanya.

Akan tetapi, tampaknya proyek Acoustic Kitty tidak gagal total. Dalam memo “Pandangan akan Kucing yang Dilatih” yang disimpan oleh NSA di Universitas George Washington, para peneliti CIA mengonklusikan bahwa kucing memang bisa dilatih untuk bergerak dalam jarak pendek dan “penemuan ini merupakan keberhasilan sains yang luar biasa”.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberSmithsonian, TIME,
Komentar