Lebih Sadis dari Perkiraan, Bisakah Mars Jadi “Rumah” Berikutnya? - Kompas.com

Lebih Sadis dari Perkiraan, Bisakah Mars Jadi “Rumah” Berikutnya?

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 07/07/2017, 20:36 WIB
Adegan saat astronot Mark Watney mencoba bertahan di Planet Mars.FOX MOVIES Adegan saat astronot Mark Watney mencoba bertahan di Planet Mars.

KOMPAS.com -- Planet Mars kembali menampakan misterinya. Kali ini, setelah senyawa kuat bernama perklorat yang berada di tanah Mars terbukti mampu menghapus perkembangbiakan bakteri secara keseluruhan dalam hitungan menit.

Perklorat merupakan senyawa kimia yang mengandung klorin. Sejak pertama kali terdeteksi keberadannya di Mars pada tahun 2008 silam, kecurigaaan terhadap kemampuan mikroorganisme untuk bertahan di planet merah telah tersimpan di benak para peneliti.

Kini, kecurigaan tersebut telah terbukti setelah hasil uji coba yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Edinburgh menunjukkan bahwa preklorat tidak hanya berbahaya bagi manusia, tetapi juga mahluk hidup lainnya ketika disandingkan dengan sinar ultraviolet yang kuat.

“Perklorat, meski stabil pada suhu kamar, adalah oksidan yang kuat saat diaktifkan, misalnya pada suhu tinggi,” kata tim peneliti dalam seperti dikutip dari Sciece Alert 7 Juli 2017.

Untuk mengujinya, para ilmuwan mengambil bakteri umum yang berada di wahana antariksa, Bacilus subtilis. Bakteri tersebut kemudian diletakkan di larutan magnesium perklorat dengan konsentrasi yang sama dengan yang ditemukannya di Mars dan diekspos sinar UV dengan panjang gelombang serupa di planet merah tersebut.

Dalam waktu 30 detik, B subtilis mati. Tidak ada satu pun bakteri yang selamat dalam tes tersebut.

Tim peneliti juga mengekspos B subtilis ke sinar UV tanpa adanya perklorat. Tak jauh berbeda, bakteri ini mati dalam waktu sekitar satu menit.

Tentu saja, permukaan planet Mars tidak setandus dan sebasah cawan petri. Dengan pemikiran tersebut, para periset pun menguji skenario di mana mikroba digantung di analog batuan Mars yang terbuat dari silika. Kebanyakan dari B subtilis tetap mati.

"Meskipun efek oksidan beracun di permukaan Mars telah dicurigai selama beberapa waktu, pengamatan kami menunjukkan bahwa permukaan Mars pada saat ini sangat mengganggu sel karena adanya campuran oksidan, oksida besi, perklorat, dan radiasi UV,” ujar para peneliti dalam publikasnya di jurnal Scientific Report.

Dengan sifat preklorat yang begitu "sadis", maka bukan hal mudah untuk bertahan hidup di planet merah ini. Terlebih lagi, atmosfer Mars jauh lebih tipis dari pada bumi dan memberikan lebih banyak kesempatan bagi sinar ultraviolet untuk masuk dan membunuh.

Oleh karena itu, jika memang ada kehidupan di Mars, maka kemungkinan besar bukti itu tersembunyi di bawah permukaannya.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa

Komentar