Tak Hanya Ibu, Keberhasilan Bayi Tabung Juga Tergantung Usia Ayah - Kompas.com

Tak Hanya Ibu, Keberhasilan Bayi Tabung Juga Tergantung Usia Ayah

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 05/07/2017, 17:07 WIB
Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com –- Mendapatkan keturunan menjadi salah satu hal yang membahagiakan bagi pasangan. Namun, untuk mendapatkannya, ternyata tidak semudah yang dipikirkan sebelumnya. Beberapa pasangan butuh waktu lebih lama hingga memutuskan untuk melakukan proses In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung yang tidak selalu berhasil.

Namun, ada baiknya tidak menunggu terlalu lama untuk melakukan IFV. Sebab, keberhasilan IFV tidak hanya bergantung pada usia perempuan, tetapi juga "jam biologis" laki-laki, ungkap studi terbaru.

Laura Dodge dari Harvard University bersama timnya menganalisa proses bayi tabung selama 15 tahun yang dilakukan di Boston antara tahun 2000 hingga 2014. Dalam rentang waktu itu, terdapat sekitar 19.000 siklus bayi tabung yang dilakukan oleh hampir 8.000 pasangan. Dari data tersebut, peneliti kemudian membagi peserta bayi tabung menjadi empat kelompok umur: di bawah 30 tahun, 30-35 tahun, 35-40 tahun, dan 40-42 tahun.

(Baca juga: Kapan Program Bayi Tabung Dibutuhkan?)

Angka kelahiran kumulatif hidup - yang diukur dari enam siklus perawatan bayi tabung - paling rendah pada pasangan di mana pasangan wanita berusia 40-42 tahun. Hal ini tidaklah mengejutkan, mengingat terjadinya penurunan kesuburan wanita pada rentang usia tersebut. Dalam kelompok ini, pasangan laki-laki juga tidak berdampak pada tingkat kelahiran.

Namun pada kelompok perempuan yang lebih muda, angka kelahiran hidup kumulatif menurun pada saat pasangan pria lebih tua.

"Umumnya, kami melihat tidak ada penurunan signifikan dalam angka kelahiran hidup kumulatif saat wanita memiliki pasangan pria usia yang sama atau lebih muda," kata Dodge seperti dikutip dari Live Science pada Selasa (4/7/2017).

Dia melanjutkan, tetapi, wanita berusia 35-40 secara signifikan mendapat bantuan dari memiliki pasangan pria yang berusia di bawah 30 tahun. Mereka memiliki peningkatan hampir 30 persen dalam angka kelahiran hidup kumulatif bila dibandingkan dengan wanita yang pasangannya berusia 30-35. Angka ini meningkat dari 54 persen jadi 70 persen.

Hal sebaliknya juga terjadi ketika laki-laki berusia lebih tua daripada perempuan. Dalam studi tersebut, wanita berusia di bawah 30 tahun dan laki-laki berusia 40-42 memiliki angka kelahiran hidup kumulatif 46 persen. Namun jika usia pasangan pria 30-35, angka tersebut meningkat secara signifikan menjadi 73 persen.

"Kami melihat penurunan angka kelahiran hidup kumulatif yang signifikan di antara wanita dengan pasangan pria di kelompok usia yang lebih tua. Bagi wanita usia 30-35 tahun, memiliki pasangan yang lebih tua menyebabkan penurunan lebih kurang 11 persen daripada memiliki pasangan pria yang berusia yang sama," kata Dodge.

(Baca juga: Begini Tahap demi Tahap Program Bayi Tabung)

Namun, para peneliti belum sepenuhnya yakin penyebab pasti dari pengaruh usia laki-laki terhadap keberhasilan bayi tabung. Mereka menduga bahwa hal itu terkait dengan kerusakan sperma yang berakibat pada prospek kesuburan laki-laki.

Untuk jadi bahan pertimbangan, penelitian Dogde dan timnya belum diulas oleh ilmuwan lain. Meski demikian, hasilnya telah dipresentasikan di pertemuan tahunan Masyarakat Eropa untuk Reproduksi dan Embriologi di Swiss.

Menanggapi temuan itu, dokter kandungan Nick Macklon dari University of Sothampton menilai, hasil penelitian Dodge dapat menjadi pertimbangan bagi calon orang tua dan tidak terbatas pada usia calon ibu.

"Ini dapat membantu wanita untuk mendorong pasangan pria mereka untuk bergerak. Kami tahu dari sejumlah penelitian bahwa salah satu alasan mengapa wanita melahirkan bayi di usia lebih tua adalah karena pria terkadang lamban untuk mendukung gagasan tersebut. Hal ini mengingatkan kita bahwa kehadiran bayi membutuh dua orang dan tidak hanya tergantung pada usia wanita saja," ucapnya.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberLivescience,
Komentar