Letusan Dieng dan Uap yang Melontarkan Tutup Panci - Kompas.com

Letusan Dieng dan Uap yang Melontarkan Tutup Panci

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 03/07/2017, 17:49 WIB
dok. BPBD Banjarnegara Kawah Sileri Dieng menyemburkan lumpur setinggi 200 meter di kawasan Desa Kepakisan Batur, Banjarnegara, Minggu (2/7/2017).

KOMPAS.com - Kawasan Sileri Dieng menyemburkan uap hingga mencapai ketinggian 200 meter pada Minggu (2/7/2017). Semburan itu berlangsung pada pukul 12.00 WIB.

Anda mungkin sudah tahu tentang 17 orang yang luka-luka dan dilarikan ke pusat pelayanan kesehatan terdekat serta kehebohan lainnya.

Namun, sudahkah Anda tahu tentang letusan freatik itu sendiri? Apa sejatinya letusan freatik dan apa bedanya dengan letusan magmatik gunung berapi?

Pakar kegunungapian dan kebencanaan Surono mengungkapkan, letusan freatik skalanya sangat kecil, terjadi karena tekanan uap air.

Surono mengibaratkan, letusan freatik layaknya uap yang keluar saat merebus air, tidak perlu tekanan tinggi untuk melontarkan tutup panci.

"Ukuran (letusan) magmatik jauh lebih besar," kata Surono saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/7/2017). Dalam kasus letusan magmatik, tekanan jauh lebih tinggi.

“Merebus air saja, sekitar lebih dari 100 derajat. Tidak sampai sepanas gas magmatik. Magma kan asalnya 1.300 derajat Celsius kemudian mendingin menjadi gas, paling tidak 800 derajat celsius,” ujar Surono.

Letusan magmatik bisa melontarkan apa saja yang berada di dalam gunung berapi dengan jarak yang cukup jauh.

“Freatik paling-paling hanya lumpur saja. Batu kemungkinan bisa terlempar tapi paling jaraknya dekat. Tekanannya tidak tinggi,” ucap Surono.

Menurut Surono, potensi terjadinya letusan dapat diprediksi. Pengelola wisata dapat memberikan peringantan agar tidak memasuk dalam radius 100 meter dari bibir kawah.

"Itu kan di-warning sebelumnya bahwa jangan masuk dalam radius 100 meter dalam bibir kawah Sileri kan, artinya sudah dideteksi," kata Surono.

Jawan Surip, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, mengatakan, gejala letusan freatik sebenarnya bisa dideteksi lewat peningkatan suhu, dari normal 60 derajat celsius menjadi 73-74 derajat celsius.

Pihaknya pun sebenarnya sudah memberikan peringatan sejak 24 Mei 2017. Sayangnya, masih banyak pengunjung yang belum mematuhi peringatan itu.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM