Beginilah Cara Tabir Surya Melindungi Kulit Anda - Kompas.com

Beginilah Cara Tabir Surya Melindungi Kulit Anda

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 30/05/2017, 12:43 WIB
Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com -- Tanyalah kepada semua dermatolog yang Anda temui, apa cara terbaik untuk mencegah penuaan dini? Kemungkinan besar jawaban mereka adalah rajin menggunakan tabir surya yang menangkal sinar ultraviolet A (UVA) dan B (UVB).

Namun, tidakkah Anda penasaran mengenai bagaimana bahan kimia yang ada di dalam tabir surya bekerja melawan pengaruh UVA dan UVB?

Kerry Hanson, seorang ahli kimia penelitian dari University of California, menjelaskannya dalam artikel The Conversation 26 Mei 2017. Menurut dia, untuk mengetahui bagaimana bahan kimia dalam tabir surya bekerja, maka Anda juga harus mengetahui bagaimana UVA dan UVB mempengaruhi kulit Anda.

Hanson menjelaskan, sinar matahari terdiri dari paket energi yang disebut photon. Jika warna yang dapat kita lihat biasanya tidak memiliki efek apa-apa, photon yang tidak berwarna dari matahari disebut ultraviolet dan dapat merusak kulit kita. Sinar ini dibagi menjadi dua kategori, UVA yang berada di gelombang 320-400 nanometer dan UVB yang berada di gelombang 280-320 nanometer.

Sebenarnya, kulit manusia telah dirancang untuk dapat menyerap UVA dan UVB, tetapi proses ini membuat molekul bereaksi dan menyebabkan berbagai dampak, seperti produksi melanin yang meningkat dan menyebabkan kulit yang lebih gelap, serta matinya jaringan antioksidan alami pada kulit.

“Kita tahu bahwa UVA menembus kulit kita lebih dalam daripada UVB dan menyebabkan kerusakan protein struktur yang disebut kolagen. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitas dan kemulusan yang dapat menyebabkan keriput. Sementara itu, UVB biasanya menjadi penyebab utama kulit yang terbakar matahari. Anggap saja A untuk aging (penuaan) dan B untuk burning (terbakar),” katanya.

Namun, yang paling mengerikan dari semua efek sinar ultraviolet adalah kanker kulit. Hal ini terjadi ketika DNA menyerap UVA atau UVB dan mengalami mutasi.

“Hal ini tidak bisa diremehkan, dampak ini bisa terjadi pada semua jenis kulit, dari Tipe I seperti Nicole Kidman hingga Tipe VI seperti Jennifer Hudson. Tidak peduli sebanyak apa melanin yang ada pada kulit, Anda tetap bisa mengalami kanker kulit yang diakibatkan oleh UV,” ujar Hanson.

(Baca juga: Sudah Memakai Tabir Surya, Mengapa Kulit Masih Terbakar?)

Menyaring photon

Sebelum semua dampak buruk tersebut terjadi, kulit harus dilapisi dengan pelindung yang kini disebut sebagai tabir surya. Molekul di dalam tabir surya bisa membuat batas perlindungan pada kulit dengan menyerap (saringan kimia) atau memantulkan (blocker fisik) photon sebelum mereka diserap oleh DNA.

Untuk mengetahui kemampuan sebuah tabir surya dalam melindungi kulit dari UVB, Anda dapat melihat pada tingkat SPF yang tercantum.

Hanson menjelaskan, SPF menunjukkan waktu relatif yang dibutuhkan seorang individu untuk terbakar oleh radiasi UVB. Sebagai contoh, bila orang tersebut terbakar dalam waktu 10 menit, SPF 30 yang digunakan dengan tepat akan meningkatkannya menjadi 30 kali lipat atau sekitar 300 menit sebelum terbakar.

“Kuncinya di sinilah adalah menggunakannya dengan tepat,” ucap Hanson. Penelitian menunjukkan bahwa manusia dewasa membutuhkan tabir surya seukuran koin untuk melindungi area wajah dan leher, dan sekitar satu gelas seloki untuk melindungi area tubuh yang terpapar matahari. Akan tetapi, mayoritas orang hanya menggunakan seperempat atau setengah dari yang direkomendasikan.

Namun, SPF yang tinggi saja tidak cukup untuk melindungi kulit dari UVA. Sebuah tabir surya yang melindungi kulit dari UVA dan UVB disebut broad spectrum, tetapi label ini lebih sulit didapatkan. Untuk bisa disebut broad spectrum, sebuah tabir surya harus tetap bisa melindungi kulit, walaupun telah dipaparkan di bawah sinar ultraviolet berdosis tinggi.

Sebagai contoh adalah molekul penyerap UVA, avobenzone. Ketika disandingkan dengan penyerap UVB octinoxate, molekul ini bereaksi dan menjadi tidak efektif. Namun, ketika disandingkan dengan penyaring UVB octocrylene, molekul ini justru menjadi lebih stabil dan tahan lama.

Kini, tugas para peneliti tabir surya adalah melebarkan misi mereka. Sebab,tabir surya dengan SPF pun tidak dapat memblokir sinar UVB hingga 100 persen. Lalu, tambahan antioksidan pada tabir surya juga berpotensi memberatkan perlindungan antioksidan alami pada kulit.

“Beberapa bahan antioksidan yang telah aku dan kolegaku kerjakan adalah tocopheral acetate (Vitamin E), sodium ascorbyl phosophate (Vitamin C), and diethylhexyl syringylidene malonate (DESM),” kata Hanson.

Selain itu, para peneliti juga mulai menyelidiki pengaruh cahaya lainnya, seperti infrared, pada kulit.

(Baca juga: Mitos Salah Seputar Tabir Surya yang Wajib Diketahui)

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar