Fenomena Misterius Ini Bukti Alam Semesta Kita Bukan Satu-satunya - Kompas.com

Fenomena Misterius Ini Bukti Alam Semesta Kita Bukan Satu-satunya

Yunanto Wiji Utomo
Kompas.com - 19/05/2017, 19:19 WIB
ESA Titik dingin di antariksa yang terletak di konstelasi Eridanus.

KOMPAS.com - Tahun 2004, misi Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP) Badak Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan wilayah misterius di antariksa.

Fenomena itu disebut titik dingin sebab berdasarkan pemetaan radiasi latar belakang sinar kosmik oleh WMAP wilayah itu lebih dingin dari sekitarnya.

Misi Planck dari Badan Antariksa Eropa (ESA) berhasil mengonfirmasi adanya fenomena "titik dingin" tersebut pada tahun 2013 tetapi ilmuwan masih sulit menjelaskannya.

Selama ini, teori yang berkembang menyebutkan, "titik dingin" itu pada dasarnya merupakan area antariksa yang lebih kosong dari sekitarnya.

Namun, sebuah studi yang dipublikasikan di Monthly Notice of the Royal Astronomy Society 13 April 2017 mengungkap, titik dingin adalah fenomena yang jauh lebih mengagumkan dari dugaan.

"Kekosongan yang kami deteksi tidak bisa menerangkan titik dingin dalam standar kosmologi," kata Tom Shanks dari Universitas Durham.

Shanks mengungkapkan, titik dingin itu memang bukan tidak mungkin hasil fluktuasi aneh yang bisa dijelaskan dalam model standar fisika.

Namun, jika penjelasan itu tidak cukup memuaskan, maka titik dingin itu mungkin fenomena yang lebih eksotis dari dugaan.

"Mungkin penjelasan yang paling mengagumkan dari titik dingin adalah bahwa sebenarnya itu tumbukan antara semesta kita dan gelembung semesta lainnya," katanya.

"Jika analisis yang lebih mendalam membuktikan memang demikian maka titik dingin adalah bukti pertama alam semesta majemuk," imbuhnya seperti dikutip The Independent, Kamis (18/5/2017)

Para kosmolog memang telah lama berteori bahwa alam semesta tidak hanya satu, tetapi banyak, bahkan tak terhingga.

Satu alam semesta memiliki hukum-hukum berbeda dengan alam semesta lainnya. Alam semesta bisa terhubung lewat "wormhole" satu sama lain.

Jika studi Shanks benar, maka mungkin itu sangat menggembirakan bagi awam. Tapi bagi fisikawan, itu pekerjaan rumah besar.

Jika alam semesta majemuk, maka para kosmolog perlu merumuskan lagi asal-usul alam semesta dan kehidupan yang mungkin ada di dalamnya.


PenulisYunanto Wiji Utomo
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM