Pertama Kali, Tikus Mandul Bisa Melahirkan berkat Ovarium Buatan - Kompas.com

Pertama Kali, Tikus Mandul Bisa Melahirkan berkat Ovarium Buatan

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 18/05/2017, 19:05 WIB
Kiri: tikus yang menerima transplantasi ovarium buatan dan melahirkan, kanan: bentuk anyaman untuk ovarium buatan yang dicetak secara 3D.

KOMPAS.com -- Tidak semua anak perempuan tumbuh menjadi seorang ibu. Ada yang memilih untuk tidak memiliki anak dan ada juga yang memang tidak bisa memiliki anak karena berbagai kondisi.

Namun, kini ada harapan baru untuk para perempuan yang masuk kategori kedua. Sekelompok tim insinyur biologi mengumumkan melalui Nature Communications bahwa mereka telah mampu mencetak ovarium secara tiga dimensi (3D) yang dapat berfungsi normal.

(Baca juga: Terobosan Baru, Ilmuwan Tumbuhkan Bayi Domba dalam Kandungan Buatan)

Pada dasarnya, ovarium adalah organ yang memproduksi telur. Jika dibuka, dia berisi folikel, telur-telur yang belum matang dan dilingkupi oleh kantung berisi estrogen dan hormon penting lainnya.

“Fungsi dari ovarium adalah untuk menggembalakan folikel ini agar matang menjadi telur dewasa setiap bulan,” kata Teresa Woodruff, seorang ilmuwan reproduksi di Northwestern University yang juga menulis studi tersebut.

Untuk menciptakan ovarium yang benar-benar berfungsi, Woodruff dan koleganya harus memulai dari bentuknya.

Dia mengatakan, Anda mungkin berpikir bahwa tulang merupakan penopang daging Anda. Tapi menariknya, setiap organ sebenanrya memiliki matriks ekstraseluler yang terbuat dari senyawa yang lebih keras dan berfungsi seperti perancah.

Menggunakan bahan kimia khusus, para peneliti merontokkan semua folikel, pembuluh darah, dan jaringan sel pada ovarium manusia dan menemukan sebuah struktur kolagen yang ketika dilihat di bawah mikroskop ternyata berbentuk seperti anyaman.

(Baca juga: Teknik Kontroversial Pembuatan Bayi dari 3 Orangtua Kandung Terungkap)

Untuk meniru bentuk anyaman tersebut, para peneliti harus mencetaknya menggunakan printer 3D dan tinta yang terbuat dari jaringan sel ovarium. Jaringan tersebut adalah kolagen yang telah dipecah menjadi gelatin.

Namun, gelatin tersebut harus berada pada temperatur yang sempurna agar dapat berfungsi seperti tinta. Terlalu panas dan gelatin tidak akan bisa menopang dirinya sendiri, terlalu dingin dan gelatin akan menggumpal. Untungnya, insinyur biomedis Alexandra Rutz menemukan solusinya. Temperatur terbaik untuk tinta gelatin adalah 30 derajat celcius.

Langkah berikutnya adalah menentukan motif pori-pori pada perancah yang telah dicetak. Setiap pori harus berada di lokasi yang tepat untuk menyimpan lusinan folikel yang akan bertumbuh.

“Ovarium harus bisa menyimpan folikel yang kecil dan yang besar. Lalu, lingkungannya juga harus bisa menghubungkan folikel-folikel ini agar mereka dapat menangkap sinyal mengenai mana yang harus mulai berovulasi,” ucap Ramille Shah, salah satu peneliti dalam studi tersebut.

Setelah jadi, organ buatan tersebut kemudian ditransplantasikan pada tikus yang ovariumnya telah diangkat. Dari tujuh tikus, tiga di antaranya berhasil bereproduksi dan melahirkan anak-anak tikus yang sehat. Mereka bahkan mampu menyusui yang berarti hormon tikus-tikus tersebut berfungsi secara normal.

Lalu, untuk memastikan bahwa ovarium buatan tersebut tidak memiliki efek samping jangka panjang, Woodruff dan koleganya juga membiarkan anak-anak tikus tersebut bereproduksi secara normal.

(Baca juga: Pertama Kali, Ilmuwan Ciptakan Embrio Campuran Babi dan Manusia)

Kini, para peneliti berniat untuk membawa ovarium buatan mereka ke jenjang berikutnya. Jika versi yang lebih besar dari ovarium ini berfungsi dengan baik pada babi, maka teknologi tersebut akan diperkenalkan pada pasien manusia, dimulai dari struktur yang dapat menggantikan produksi hormon hingga organ buatan yang benar-benar berfungsi.

Penemuan ini diprediksi akan menjadi sangat penting untuk para pasien kanker yang masih berusia muda. Salah satu anggota tim, Monica Laronda, mengatakan, apa yang terjadi pada pasien kanker kita adalah ovarium mereka tidak berfungsi dengan baik sehingga mereka harus melakukan terapi hormon untuk mengalami pubertas.

“Tujuan dari perancah adalah untuk merekapitulasi bagaimana ovarium akan berfungsi. Kita memikirkan gambaran besarnya yaitu setiap tahap dalam kehidupan seorang anak perempuan, dimulai dari pubertas, masa dewasa, hingga menopause yang alami,” ujarnya.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close Ads X