Teka-teki Kilat Misterius di Bumi Terpecahkan, Ternyata Ini Sebabnya - Kompas.com

Teka-teki Kilat Misterius di Bumi Terpecahkan, Ternyata Ini Sebabnya

Yunanto Wiji Utomo
Kompas.com - 17/05/2017, 16:34 WIB
NASA Kilat misterius di bumi bersumber dari pantulan cahaya matahari yang menumbuk partikel es.

KOMPAS.com - Kilat cahaya misterius kerap tertangkap satelit yang mengorbit bumi dari antariksa. Selama puluhan tahun, kilat cahaya itu menjadi misteri sebab ilmuwan tak tahu sebabnya.

Kini sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti Goddard Space Flight Center, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berhasil menjelaskannya.

Untuk menjelaskannya, Alexander Marshak bersama rekannya menganalisis citra yang diambil instrumen Earth Polychromatic Imaging Camera (EPIC) pada satelit Deep Space Climate Observatory (DISCOVR).

Dari citra satelit itu, Marshak mendapatkan 866 kilat cahaya sepanjang Juni 2015 hingga Agustus 2016. Kilat tampil dalam tiga warna karena satelit memotret dalam cahaya merah, biru, dan hijau.

Ada dugaan bahwa kilat cahaya itu bersumber dari lautan. Cahaya matahari memancar ke laut dan akhirnya laut memantulkannya ke satelit.

Namun, dugaan itu jadi mentah karena ilmuwan Marshak menjumpai kilat yang bersumber dari daratan. Ia pun lantas menganalisis data lebih dalam.

Marshak berargumen, jika berasal dari pantulan cahaya matahari, maka kilat akan terjadi di titik tertentu di mana sudut antara matahari dan bumi sama dengan sudut antara satelit dan bumi.

Marshak mencoba melakukan plot lokasi dan menganalisis sudutnya. Ternyata dugaan itu benar. Dengan sudut yang sama, satelit bisa menangkap pantulan cahaya matahari.

Jadi, kilat misterius itu beda dengan petir. " Petir tak peduli dengan lokasi matahari dan EPIC," kata Marshak seperti dikutip EurekAlert, senin (15/5/2017).

Tapi, apa yang ditumbuk oleh cahaya matahari sehingga bisa menghasilkan kilat cahaya itu? Analisis menguak sumbernya adalah es.

"Sumber kilat bukan yang berada di atas permukaan tanah. Itu pastinya es dan kemungkinan besar pantulan cahaya matahari pada partikel yang berorientasi hirisontal," jelas Marshak.

Es itu melayang di atmosfer alias awan. Jenisnya adalah cirrus, awan yang berketinggian 5 hingga 8 kilometer.

Pengungkapan asal usul kilat ini berguna untuk riset keplanetan ke depan. Ilmuwan bisa mengembangkan cara untuk melihat karakter planet di luar tata surya dengan melihat ada tidaknya kilat serupa.


PenulisYunanto Wiji Utomo
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar