Bantuan Restorasi Lahan Gambut di Sumsel Akan Berkelanjutan - Kompas.com

Bantuan Restorasi Lahan Gambut di Sumsel Akan Berkelanjutan

Alsadad Rudi
Kompas.com - 12/05/2017, 07:15 WIB
Kompas.com/Alsadad Rudi Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin memimpin kegiatan restorasi atau penanaman kembali area lahan gambut seluas 20 hektar di Desa Sepucuk, Kayuagung, Kabuoaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (9/5/2017). Restorasi area gambut yang dipimpin Alex merupakan bagian dari kegiatan South Sumatera-Bonn Challenge Asia Pasific Regional High Level Roudtable Meeting yang diselenggarakan di Sumatera Selatan pada 9-10 Mei 2017.

KOMPAS.com - Kegiatan South Sumatera-Bonn Challenge Asia Pasific Regional High Level Roudtable Meeting telah berakhir. Kegiatan tersebut ditutup dengan pertemuan yang dihadiri delegasi 27 negara yang diselenggarakan diselenggarakan di Griya Agung, Palembang, Rabu (10/4/2017).

Dalam pertemuan tersebut, didapat kesepakatan bahwa negara-negara yang menandatangi Bonn Challenge berkomitmen untuk memberikan bantuan secara berkelanjutan untuk Sumatera Selatan dalam upaya merestorasi (menanam kembali) lahan-lahan gambut yang rusak di wilayah tersebut.

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mengatakan, Sumatera Selatan tadinya mengatakan ada sekitar 736 ribu hektar areal hutan dan lahan di Sumsel yang terbakar pada 2015. Oleh karena itu, ia menyebut diperlukan upaya pemulihan dengan bantuan dari negara-negara lain.

"Jadi bentuk bantuannya restorasi lahan, kita bukan nerima uang tapi dalam program," kata Alex.

Alex mengatakan, dari hasil pertemuan itu didapatkan hasil bahwa lahan di Sumsel akan direstorasi di 11 lokasi. Kesebelas lokasi tersebut adalah sembilan lahan gambut yang tersebar di Sumsel dan dua lainnya di daerah pegunungan yakni daerah Pagaralam dan Semendo.

"Dari sembilan yang dipresentasikan, ada lima yang luar biasa kita terima jadi dan kita ikut di situ jadi belajar ada ahli teknologi," ujar Alex.

Di forum Bonn Challenge, Pemerintah Sumsel mengusulkan pendirian lembaga pendanaan berkelanjutan. Keberadannya diharaokan bisa mendukung rencana pembangunan strategis provinsi terkait mata pencarian dan kesejahteraan rakyat, perubahan iklim, jasa lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati, dan konservasi ekosistem.

"Kita berharap Bonn Challenge menjadi potensi memulai networking, membangun kolaborasi, dan mengembangkan kesempatan untuk mendukung komitmen Sumsel dalam mencapai pertumbuhan hijau," pungkas Alex.

Kegiatan South Sumatera-Bonn Challenge Asia Pasific Regional High Level Roudtable Meeting di Sumatera Selatan berlangsung sejak Selasa (9/5/2017).

Pada hari pertama, dilakukan kegiatan restorasi atau penanaman kembali area lahan gambut seluas 20 hektar di Desa Sepucuk, Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Lahan yang ditanam diketahui adalah lahan yang beberapa tahun lalu sempat terbakar dan menyebabkan musnahnya seluruh jenis tanamam yang ada di area tersebut.

Bonn Challenge pertama kali diprakarsai dengan adanya pertemuan tingkat Menteri Lingkungan Hidup dari berbagai negara dalam International Union for Conservation Nature (lUCN) di tahun 2011 di Bonn, Jerman. Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen untuk merestorasi 150 juta hektar hutan dunia sampai dengan tahun 2020.

Tujuannya adalah untuk mengurangi pemanasan global akibat efek gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim dunia.

Sampai saat ini, Bonn Challenge tercatat telah merestorasi lebih dari 50 juta hektar hutan dan lahan yang terdegradasi di Rwanda, El Savador, Kosta Rika, Guatemala, Kongo, Uganda, Kolombia, dan Ethiopia. Khusus di Indonesia, kegiatan yang dilaksanakan di OKI, Sumsel, merupakan yang pertama kalinya.

Di Sumsel direncanakan ada sekitar 1.000 hektar lahan di Sumsel yang akan direstorasi selama beberapa tahun ke depan.

PenulisAlsadad Rudi
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X