Tak Perlu Tunggu Tua untuk “Medical Check-Up”! - Kompas.com
BrandzView
Halaman ini merupakan kerja sama antara Prodia dan Kompas.com

Tak Perlu Tunggu Tua untuk “Medical Check-Up”!

Cahyu Cantika Amiranti
Kompas.com - 11/05/2017, 14:43 WIB
thinkstock/Huntstock Ilustrasi cek kesehatan

KOMPAS.com – Selama ini, medical check-up lebih identik dengan orang dewasa dan mereka yang sudah lanjut usia (lansia). Padahal, pada dasarnya pemeriksaan kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap tahapan usia, mulai dari bayi hingga lansia. Pasalnya, tiap kelompok usia memiliki risiko penyakit masing-masing.

Jenis tes kesehatan untuk setiap tahapan usia pun berbeda sesuai risiko penyakit yang dimiliki.

Bayi yang baru lahir, misalnya, perlu menjalani beberapa jenis pemeriksaan untuk kesehatan fisik dan organnya. Contohnya, penilaian skor Apgar untuk melihat warna kulit, pernapasan, refleks, kekuatan otot, dan denyut nadi.

Ketika bayi sudah berusia tiga hingga lima hari, mereka mulai dianjurkan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengecek status kesehatan.

Dilansir dari situs prodia.co.id, Selasa (28/6/2016), pemeriksaan untuk bayi berusia 3-5 hari umumnya bertujuan mendeteksi kemungkinan terdapat kelainan bawaan, misalnya berkurangnya produksi hormon hipotiroid dan kekurangan enzim G6PD yang dapat mengganggu tumbuh kembangnya kelak.

Sementara itu, untuk bayi hingga usia satu tahun disarankan melakukan medical check-up dalam bentuk tes hematologi rutin. Pemeriksaan ini dibutuhkan karena pada usia tersebut, anak kerap terserang anemia yang dapat mengganggu tumbuh kembangnya.

Tes hematologi rutin juga dianjurkan untuk anak usia satu sampai tiga tahun. Namun, tak cukup satu jenis pemeriksaan saja, anak di kelompok usia ini sebaiknya juga melakukan pemeriksaan urine rutin untuk mendeteksi infeksi saluran kemih.

Adapun pemeriksaan kesehatan yang dianjurkan untuk anak prasekolah usia 3-5 tahun diarahkan pada status nutrisinya. Sebab, anak pada usia tersebut sangat berisiko terjangkit diare dan pneumonia—paru-paru basah. Hal ini terbukti dari cukup banyaknya kasus kematian anak akibat kedua penyakit itu.  

Dok Prodia Medical check up pada anak secara teratur bantu memastikan anak tumbuh dengan baik.

Berdasarkan laporan UNICEF pada 2012, 400 balita di Indonesia meninggal setiap hari akibat pneumonia dan diare. Secara global, kedua penyakit ini menyebabkan 1,4 juta anak meninggal setiap tahun.

Berlanjut ke usia sekolah, jenis pemeriksaan yang dianjurkan pun berbeda lagi. Mereka sudah perlu mendapat pengecekan kondisi saluran cerna. Tak hanya itu, akan ditambahkan pula pemeriksaan profil lipid atau lemak jika dibutuhkan.

Sementara itu, pemeriksaan laboratorium untuk remaja usia 12-18 tahun mulai diarahkan pada deteksi diabetes mellitus dan hipertensi.

Usia muda hingga lansia

Kebutuhan menjalani medical check-up secara berkala menjadi semakin penting ketika memasuki usia muda, yakni 18-30 tahun. Terlebih lagi, mengingat kian banyak orang muda yang menerapkan gaya hidup kurang sehat.

“Saat ini banyak orang muda yang menyantap jenis makanan apapun tanpa melihat kandungan nutrisinya,” kata Presidium Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), Dyah Agustina, dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (27/4/2017).

Tak hanya itu, anak muda, khususnya yang tinggal di perkotaan, sering kali menerapkan gaya hidup serba instan, kurang gerak, penuh persaingan, stres, dan sibuk. Lebih bahaya lagi, umumnya mereka tidak menyadari kalau memiliki riwayat keluarga yang dapat meningkatkan risiko terkena suatu penyakit.

Akibatnya, banyak anak muda yang mendadak terserang penyakit kronis. Menurut data WHO pada 2013, lebih dari 2,6 juta generasi muda usia 10-24 tahun di dunia meninggal setiap tahun.

thinkstock/Belyjmishka Ilustrasi tes kesehatan

Sebagian besar kematian disebabkan penyakit seperti HIV dan masalah sistem pernapasan. Karena itu, melakukan tes kesehatan, seperti Panel Check Up Young Generation sangat dianjurkan untuk kelompok usia tersebut.  

Pemeriksaan itu mencakup tes hematologi rutin untuk mendeteksi infeksi dan amenia, kreatinin yang dapat menilai fungsi ginjal, rontgen thorax untuk melihat kondisi paru dan jantung, serta cholesterol (Total, HDL, dan LDL-Direk) dan Trigliserida yang berfungsi menilai profil lemak dan risiko penyakit jantung.

Merambah usia dewasa atau 30 tahun ke atas, umumnya seseorang masih produktif, tetapi risiko terkena penyakit juga semakin tinggi.

Maka dari itu, disarankan bagi mereka untuk melakukan panel check-up yang di antaranya termasuk tes hematologi rutin, urine rutin, faeces rutin, bilirubin total, GOT, serta cholesterol (Total, HDL, dan LDL-Direk) dan Trigliserida.

Melalui pemeriksaan laboratorium tersebut, orang dapat mengecek kelainan darah dan infeksi, kondisi ginjal, saluran pencernaan, hati dan saluran empedu, potensi diabetes mellitus, serta metabolisme lemak dalam tubuh.

Saat memasuki tahapan usia lanjut, sekitar 55 tahun ke atas, medical check-up menjadi sebuah kewajiban apabila ingin memiliki masa tua yang sehat.

Melalui pemeriksaan kesehatan, orang berusia lanjut dapat mendeteksi penyakit degeneratif—penyakit yang menyertai proses penuaan—sejak dini.

Masalah kesehatan yang kerap dialami lansia antara lain kelainan darah, infeksi saluran cerna, gangguan fungsi hati dan ginjal, penyakit kardiovaskular, dan gangguan fungsi tiroid.

Karena itulah, mereka disarankan melakukan Panel Check-Up Plus yang di antaranya terdiri dari tes Cystatin C untuk mendeteksi gangguan ginjal lebih dini, AFP yang dapat membantu deteksi kanker hati, dan hsCRP untuk mengecek risiko penyakit kardiovaskular.

Nah, jika sudah rutin memeriksakan kesehatan sejak awal, maka risiko terkena penyakit kronis pun dapat dihindari. Jadi, jangan lagi menunggu tua untuk mulai melakukan medical check-up.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisCahyu Cantika Amiranti
EditorSri Noviyanti
Komentar