Terapi Cuci Darah Lewat Perut Lebih Efisien dan Murah - Kompas.com

Terapi Cuci Darah Lewat Perut Lebih Efisien dan Murah

Lusia Kus Anna
Kompas.com - 10/04/2017, 14:18 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi cuci darah.

KOMPAS.com - Terapi cuci darah melalui perut untuk penderita gagal ginjal kronik dinilai lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan hemodialisa atau cuci darah di rumah sakit.

Rata-rata seorang pasien gagal ginjal kronik mengeluarkan biaya untuk cuci darah sekitar Rp 115 juta pertahun. Dengan cuci darah lewat perut (Continuous Ambilatory Peritoneal Dialisys/CAPD), diperlukan biaya setidaknya Rp 130 juta pertahun. Namun, kualitas hidup pasien lebih baik.

Demikian menurut penelitian yang dilakukan oleh Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Ketua studi, Prof. Hasbullah Thabrany, menjelaskan, studi dilakukan pada 3 rumah sakit di Jakarta dan Bandung melibatkan 120 pasien gagal ginjal stadium akhir.

"CAPD lebih efisien karena pasien tidak perlu datang ke rumah sakit dan bolos kerja seperti halnya cuci darah di rumah sakit," katanya dalam pemaparan hasil studi CHEPS di Jakarta (8/4/2017).

Jika hemodialisis menggunakan mesin untuk cuci darah dan harus dilakukan di klinik atau rumah sakit, CAPD menggunakan selaput perut pasien. Karena itu, CAPD bisa dilakukan di mana saja, di kantor, di rumah, saat tidur, bahkan dalam perjalanan.

Untuk melakukan CAPD, diperlukan pemasangan kateter di dalam perut pasien untuk memasukkan cairan yang berfungsi menarik racun dari tubuh.

Dalam studi terungkap, penghasilan pasien cuci darah yang hilang karena harus ke rumah sakit dua kali seminggu mencapai 9 juta. Transportasi yang dihabiskan mencapai 5,2 juta. Sedangkan peserta cuci darah lewat perut hanya 3 juta.

Studi ini juga menyimpulkan, cuci darah lewat perut berpotensi menghemat dana JKN 48 juta lebih per orang per lima tahun.

Menurut dr.Atma Gunawan, Sp.PD, Konsultan Ginjal hipertensi dari Malang CAPD Center membagikan pengalamannya. Ia mengatakan, hampir semua pasien penyakit ginjal kronis yang datang, 95 persen harus menjalani cuci darah memakai mesin hemodialisa.

"Sebagian besar harus melakukannya 2 kali seminggu, bahkan 3 kali seminggu. Karena memulainya terlambat, maka angka harapan hidup selama 1 tahun rendah, hanya 50 persen," kata Atma dalam acara yang sama.

Di Malang CAPD Center, termasuk terbanyak menangani  pasien  CAPD yaitu 290 pasien atau 34 persen dari seluruh pasien pasien yang menjalani dialisis.

Namun, menurut Atma pelaksanaan CAPD bukan tanpa kendala. Misalnya, sebagian besar peserta CAPD adalah memiliki kriteria yang memerlukan cairan dialisis khusus yang lebih mahal sehingga akhirnya banyak yang drop out.

Infeksi rongga perut juga masih menjadi momok bagi pasien karena kurang menjaga kebersihan.

"Berdasarkan analisis kematian, angka kesintasan pasien yang menjalani CAPD sebenarnya lebih baik dibandingkan hemodialisa, yaitu hampir dua kali lipat. Hal ini akibat kualitas hidup hidup pasien yang menjalani CAPD jauh lebih baik," jelas Atma.

CAPD akan lebih efektif jika dimulai sejak awal. Artinya pasien tidak perlu menjalani hemodialia terlebih dahulu selama bertahun-tahun, baru beralih ke CAPD.

PenulisLusia Kus Anna
EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X