Awas, Implan Pembesar Payudara Bisa Memicu Kanker - Kompas.com

Awas, Implan Pembesar Payudara Bisa Memicu Kanker

Kompas.com - 01/04/2017, 10:00 WIB
TOTO SIHONO Ilustrasi dukungan/perhatian terhadap kanker payudara, kelahiran usia lanjut, dan kanker pada anak-anak.

KOMPAS.com - Implan untuk membesarkan payudara memang sudah digunakan sejak lama di dunia kedokteran. Meski begitu, sampai saat ini para ahli masih melakukan riset mengenai keamanan produk ini.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), implan payudara dapat meningkatkan risiko terkena kanker yang langka, yakni anaplastic limfoma sel besar (ALCL).

ALCL bukanlah kanker payudara, tetapi jenis dari limfoma, kanker pada sel sistem imun. Pada kasus yang dilaporkan ke FDA, kanker itu terjadi pada jaringan parut di sekitar implan.

Jadi, kanker tersebut terbentuk di sel sistem imun di sekitar implan payudara, bukan di sel jaringan payudara.

Pada Juni 2010- Februari 2017, FDA menerima lebih dari 350 laporan mengenai kanker yang terkait implan payudara, termasuk 9 kasus kematian. Sebagian dari wanita itu didiagnsosis kanker sekitar tahun 1996.

Walau begitu, risiko kanker ini sebenarnya rendah. Kasus ALCL insidennya 1-3 per satu juta wanita yang mendapatkan implan setiap tahunnya.

Inflamasi kronik yang dianggap sebagai prekursor banyak kanker, kemungkinan berperan pada kejadian kanker ini. Inflamasi atau peradangan kronik (menahun) di jaringan parut di sekeliling implan payudara diduga memicu kanker.

Teori lain menyebutkan, bakteri yang berkoloni di area sekitar implan juga memicu respon imun yang akhirnya meningkatkan risiko kanker.

Penelitian menunjukkan, ALCL kebanyakan ditemukan pada wanita yang mendapatkan implan payudara dengan permukaan bertekstur dibanding dengan implan yang permukaannya halus.

FDA mengatakan agar wanita yang mempertimbangkan melakukan implan payudara berkonsultasi mendalam dengan dokter. Sementara pada wanita yang sudah menjalani operasi pembesaran payudara, diperlukan pemeriksaan secara berkala.


EditorLusia Kus Anna
SumberLivescience,
Komentar
Close Ads X