Waspadai Gangguan Bipolar - Kompas.com

Waspadai Gangguan Bipolar

Kompas.com - 31/03/2017, 14:15 WIB
Shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS — Orang-orang terdekat dari orang dengan gangguan bipolar perlu mengetahui apa dan bagaimana mengatasi gangguan bipolar. Mereka diharapkan memahami saat episode mania atau depresi terjadi sehingga perilaku berisiko pada orang dengan gangguan bipolar bisa dihindari.

Demikian pesan kunci seminar media tentang gangguan bipolar yang diprakarsai Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) DKI Jakarta, Kamis (30/3), di Jakarta.

Kepala Departemen Psikiatri Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Anak Agung Ayu Agung Kusumawardhani menjelaskan, orang dengan gangguan bipolar hanya perlu didengarkan saat episode depresi atau mania muncul. Mania adalah gangguan jiwa dengan gejala marah, gelisah, atau bingung berlebihan.

"Saat orang dengan bipolar pada episode mania atau depresi, jangan disalahkan, didorong, dinasihati, atau dipaksa berbuat sesuatu. Dengarkan saja. Nanti lewat episodenya," ujarnya.

Orang-orang terdekat penderita gangguan bipolar berperan penting mendampingi, terutama saat terjadi depresi. Saat depresi, orang dengan bipolar berisiko 20 kali lebih tinggi bunuh diri dibandingkan populasi umum.

Gangguan bipolar ialah gangguan pada alam perasaan di episode tertentu timbul berbentuk suasana hati depresi atau sebaliknya, suasana hati mania atau hipomania. Kadang episode mania dan depresi terjadi pada satu periode waktu tertentu dan perubahan suasana hati amat cepat.

Pada episode mania, seseorang dengan gangguan bipolar merasa hebat, cepat, amat aktif, berbicara cepat, banyak ide, dan tak perlu tidur. Sebaliknya, saat depresi, ia pesimistis, aktivitas menurun, menarik diri, tak nafsu makan, dan dunia serasa mau runtuh.

"Ada periode waktu tertentu seseorang mengalami gangguan bipolar, umumnya depresi selama dua minggu dan mania satu minggu," ucap Agung.

Prevalensi gangguan bipolar bervariasi, 1-4 persen. Episode pertama yang muncul pada laki-laki biasanya mania dan pada perempuan depresi. Usia pertama depresi pada lelaki lebih muda (22 tahun) dibandingkan dengan perempuan (26-27 tahun).

Sejumlah profesi

Ketua PDSKJI DKI Jakarta Nova Riyanti Yusuf mengatakan, sejumlah profesi terkait kreativitas kadang dianggap butuh episode mania. Contohnya, pelukis, penulis, dan artis. Episode mania pada orang dengan bipolar berprofesi pelukis, misalnya, bisa untuk merampungkan karya.

"Ada pasien bipolar marah dan menolak minum obat saat mania. Ia butuh episode mania demi menuntaskan pekerjaan sebagai pelukis," ujarnya.

Namun, menurut Agung, munculnya episode mania atau depresi pada profesi tertentu tidak terjadi begitu saja. Episode itu bisa terjadi pada orang yang telah punya gangguan bipolar. Secara epidemiologi, gangguan bipolar banyak terjadi pada kelompok pendidikan, sosial, dan ekonomi menengah ke atas dan ada riwayat keluarga 60-65 persen.

Nova menambahkan, peristiwa politik seperti pemilihan umum bisa memicu gangguan jiwa. Gangguan itu bisa berupa stres setelah pemilihan.

Budi Putra, penderita gangguan bipolar, mengatakan, saat episode mania berlangsung, seseorang dengan gangguan bipolar hanya perlu didengarkan. Jika ia mengeluarkan banyak ide, tidak perlu direspons serius karena belum tentu gagasan itu benar.

Hal yang sama juga berlaku saat episode depresi terjadi. Umumnya orang akan bertanya dan menasihati orang dengan gangguan bipolar saat mengalami depresi. Padahal, itu tak perlu dilakukan. Episode depresi yang terjadi justru bisa makin parah kalau orang sekitar menasihati.

Pada orang dengan gangguan bipolar di perkotaan, episode mania atau depresi bisa dipicu gaya hidup yang negatif. Contohnya, mengonsumsi alkohol, lebih senang menyendiri, atau menilai sesuatu dari materi dan angka.

Kepala Bidang Rehabilitasi Medis Badan Narkotika Nasional (BNN) Iman Firmansyah menambahkan, kecenderungan orang dengan gangguan bipolar menyalahgunakan zat psikotropika lebih besar dibandingkan orang dengan gangguan jiwa lain.
Prevalensi gangguan bipolar dengan penyalahgunaan zat selama kehidupan berkisar 40-60 persen. Sebaliknya, penyalahgunaan zat juga bisa memicu gangguan bipolar. (ADH)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Maret 2017, di halaman 14 dengan judul "Waspadai Gangguan Bipolar".

EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X